Sabtu, 28 April 2012

Pulau Sejuta Impian (part 3)

Rabu, 25 April 2012 Kapal ekspress kami berangkat pukul setengah 11. Kami tidak ingin menyia-nyiakan sisa waktu kami. Pagi-pagi setelah sholat shubuh, kami pinjam motor kembali untuk berkeliling ke Lagon Lele, salah satu permukiman warga di pelosok Karimun Jawa. Setelah melalui beberapa tanjakan gunung, lalu turun ke bawah, akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang sangat indah. Sebuah teluk dengan pasir putih disekelilingnya. Teluk itu sepi. Sangat sepi. Hanya 1 orang nelayan yang menampakkan dirinya, lalu ambil perahu, dan lalu pergi. Tinggallah aku dan Leo di sebuah pantai sepi yang sangat indah itu. Dipinggir-pinggirnya terdapat jajaran pohon bakau. Dibalik pohon bakau berdiri tegak pepohonan kelapa dan berbagai jenis pepohonan yang lain. Persis seperti pion dan buah catur lain di belakang pion. Kami bermain-main pasir yang ada disana. Mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan pantai. Sesekali terdengar riuh ombak kecil yang bersenandung menyambut pagi. Dan.....lagi-lagi kami disuguhi atraksi alam yang luar biasa. Di depan kami persis nampak matahari dengan gagahnya muncul dari balik lautan......SUNRISE.
Kalau petang kemarin kami dipertunjukkan dengan sunset, pagi ini kami melihat sunrise ala Karimun Jawa PERSIS di depan mata kami. Sinarnya perlahan-lahan masuk kedalam air menunjukkan isi laut dengan karang-karangnya yang sangat indah. Kueeerrreeeeennnnn!!!! Saatnya kami harus kembali. Kami tidak ingin ketinggalam kapal. Oya, kapal disana berangkat SELALU tepat waktu. Tidak ada telat. Jadi kami harus datang kesana dengan tepat waktu pula. Setelah berpamitan dengan semuanya: kakek, nenek, mas Kuntet, mas Biyan and crew, serta pemilik warung Sunda, kami pun bergegas menuju pelabuhan. Sedih rasanya meninggalkan pulau ini. Sambil menunggu pemberangkatan, kulayangkan pandanganku ke dasar lautan. Disana nampak ikan-ikan bergerumbul seolah-olah ingin menyaksikan pemberangkatanku. Aku merasa mereka berkata “sampai jumpa, saudara. Kuharap bisa bertemu kamu lagi disini”. Aku semakin sedih. Kata anak-anak kecil yang ada disana, tidak seperti biasanya, ikan ini berhenti disini berjumlah ribuan. Anak-anak kecil itu gembira menyaksikan gerombolan ikan, sambil memanggil kawan-kawannya yang lain, dan lalu memancingnya.
Aku semakin sedih melihat kawan-kawan baruku (ikan-ikan kecil itu) mengantarkanku sampai di pelabuhan. insyaAllah aku akan kesini lagi kawan. Bersama istri dan kawan-kawanku yang lain. 2 jam perjalanan kapal ekspress ini aku jalani dengan melamun. Melamunkan kesedihanku berpisah dengan pulau impian ini. Sekarang aku harus kembali ke dunia nyata. Tidak lagi bermimpi. Sesampainya di pelabuhan Kartini, kami langsung menyewa becak ke terminal bus. Dari teminal bus, kami naik bus arah Semarang turun di pertigaan Trengguli. Ongkosnya hanya 8 ribu. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan kami ke Surabaya naik bus jurusan Semarang – Surabaya. Dibutuhkan waktu sekitar 10 jam perjalanan dari pertigaan Trengguli tersebut ke terminal Bungurasih di Surabaya. Sejuta kenanganku tak akan kulupakan bersama pulau yang kuberi nama: PULAU SEJUTA IMPIAN.

Label:

Pulau Sejuta Impian (part 2)

Selasa, 24 April 2012 Saatnya ke laut. Ya, pagi sekali setelah subuh aku sudah mandi. Tak ingin terlambat ke laut untuk menyaksikan apa yang ada didalamnya. Masih sangat pagi waktu itu, padahal kapal berangkat jam setengah 9 pagi. Rencananya kami akan bersama rombongan anak-anak mahasiswa cina dari Jakarta. Ngomongnya loh gue – loh gue. Tak ada sedikit pun logatnya yang medok. Hehehe. Jadi malu. Sambil menunggu setengah 9, kami pinjam motor pada kakek untuk jalan-jalan ke atas gunung di Karimun Jawa. Dari atas gunung, pantai-pantai itu luar biasa indahnya. Pulau-pulau pun berdiri megah diantara luasnya lautan. Sungguh indah. Di kanan kiriku terdapat banyak sekali pepohonan dengan akar-akar yang menjulang hingga ke atas. Tinggi. Aku tak tahu nama pohon-pohon itu. Bagiku baru pertama kali aku melihat pohon jenis itu. Namanya juga Taman Nasional, jadi didalamnya pasti terdapat pepohonan yang dilindungi. Banyak juga burung-burung yang tak kukenal. (ini dari tadi kok tidak kenal melulu. Jangan-jangan aku memang kuper dan gaptek, jadi tidak tahu apa-apa). Bentuknya unik. Warna-warnanya pun bermacam-macam. Ada yang kuning, biru, merah, dan hitam tentunya. Katanya memang tempat ini juga melindungi hewan-hewan seperti burung itu. Selain burung, juga monyet, aneka serangga, dll. Waktu mendekati pukul 8 pagi. Ayo ke dermaga.....! Setelah sarapan di warung sunda itu, kami segera ke dermaga. Disana kami bertemu dengan mas Kuntet. Berhubung mas Kuntet harus menjemput tamu dari Semarang, maka kami diserahkan ke mas Biyan. Dialah guide kami selama kami ada di laut. Mas Biyan perawakannya kurus. Potongan cepak. Orangnya ramah, meski medoknya masih sangat terasa. Hehehe. Tak lama kemudian datanglah 4 orang cina dari Jakarta yang diceritakan mas Kuntet kemarin. 2 orang cewek. 2 orang cowok. Sepertinya mereka mahasiswa kedokteran, setidaknya itu yang bisa kusimpulkan dari obrolan mereka sepanjang perjalanan. Kami memulai petualangan kami di pulau Menjangan Besar tepat didepan pulau Karimun Jawa. Disana kami melakukan kegiatan ekstrem......berenang bareng hiu. Oh God, gigit tidak ya? Ya, sensasi takut itu memang yang menyenangkan. Deg deg serrr. Sumpah, takut sekali. Sesekali si pawang melempar ikan mati didepan kami yang mengundang ikan-ikan hiu itu datang di depan kami. Tak elak kami menjerit ketakutan. Aku sendiri menggeret mas Biyan di depanku agar bisa melindungiku. Hahaha. Dan lalu....sesuatu menggigit betisku dari belakang. Arrrgggghhhh....aku pun teriak seketika. AKU DIGIGIT.....AKU DIGIGIT....AKU DIGIGIT....! Mas Biyan, sopir kapal, dan pawang hanya tertawa melihatku ketakutan. Dan tak lama kemudian si cewek cina itu juga menjerit. ARGGGHHHHH......AKU JUGA DIGIGIT. Seketika itu juga kami panik. Leo dan yang lainnya juga ikut panik. Tapi tidak dengan penduduk-penduduk lokal itu. Asem! Mereka bukannya menolong, tapi malah tertawa. Pelan-pelan kupegang kakiku. Kupastikan kakiku masih ada. Masih ada sih. Tapi salah satu orang cina itu bertanya ada yang berdarah ga? Hati-hati darah! Bisa mengundang hiu lain untuk datang. Sialan kami semakin panik. Didepan kami hiu-hiu berenang mengelilingi kami seolah-olah menghadang kami untuk tidak kabur ke atas. Kenapa? Kenapa harus kami? Kami tidak mengganggu kalian kan, hiu? Kami hanya mengajakmu narsis untuk bisa dipoto sama si pawang yang ada diatas kami. Kami tidak bersalah kan, hiu? Kalian tidak akan memakan kami kan? Sumpah daging kami tidak enak. Terakhir kali kami minum teh pahit, jadi rasa daging kami pasti pahit. Ayolah hiu, ijinkan kami untuk pergi. Itulah celotehan-celotehan kami sambil merasakan ketakutan yang tiada tara. Mas Biyan dan pawang masih tertawa. Lebih keras, malah. Tak hanya meneruskan tertawanya, mereka malah melempari kami lagi dengan ikan mati. Dan....tentunya semakin banyak hiu yang mengelilingi kami. Sontak jeritan kami semakin menjadi-jadi. Ketakutan kami itu menjadi objek yang menarik untuk di foto oleh mas Biyan dan kawan-kawannya. Sepertinya muka kami yang memelas membuat mas Biyan turun juga ke kolam hiu. Dia menjelaskan bahwa yang menggigit kami itu adalah ikan-ikan kecil yang ada didalam kolam juga. Dia menunjuk pada ikan-ikan kecil. Kami sedikit tenang sih, tapi hiu-hiu yang masih berkeliling didepan kami ini masih membuat kami ketakutan. Setelah puas difoto-foto bersama hiu, satu persatu kami naik ke permukaan. Melihat foto-foto kami, rasanya kepingin tertawa sendiri. Sensasi ketakutan itu tidak akan kami lupakan. Luar biasa.
Perjalanan kami lanjutkan ke pulau Menjangan Kecil. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di pulau itu dengan menaiki kapal motor milik mas Biyan. Belum sampai pulau, kapal berhenti. Disana kami diwajibkan mengenakan pelampung, kaki katak dan snorkle. Wouw, ini pertama kalinya aku berenang di lautan. Jangankan kedalaman 3 meteran seperti tempat kami saat itu, kedalaman 2 meter di kolam renang saja, aku udah takut. But, it’s ok. Bukankah aku disana untuk merasakan petualangan-petualangan baru. Byur...untuk pertama kalinya aku ceburkan diri di tengah lautan seperti ini. Aku mengambang. Ya, pelampung ini bekerja dengan baik. Ku goyang-goyangkan kakiku. Wouw, ternyata gerakku menjadi lebih cepat ketika aku memakai kaki katak ini. Wehehehe. Asiik aku bisa berenang dilautan (tapi pakai pelampung. Hehehe). Mas Biyan memberikan instruksi pada kami untuk memasukkan kepala kami di dalam air. Mblub.. Wuouuuuuuww.......kehidupan bawah laut. Keren..... Ikan dimana-mana. Kecil besar. Bentuknya macam-macam. Warnanya pun beraneka macam. Ada biru, kuning, perak, emas, hijau, semuanya ada. Ini loh ikan-ikan yang kulihat di film “Finding Nemo”. Sumpah keren. Sopir kapal melempari kami. Kali ini tidak dengan ikan mati, tapi dengan roti yang sudah diremes-remes, lalu ditaburkan di depan kami. Lalu amazing, ikan-ikan kecil yang indah itu segera mengerubungi kami. Seru habis. Ada yang menggigiti kami dengan gigi ompongnya itu. Ada yang menyundul-nyundul. Semuanya berenangan didepan kami. Tepat didepan mata kami, PERSIS. Sesekali kami menangkapnya, lalu melepasnya kembali. Tak terhitung jumlah ikan yang ada disekeliling kami. Ratusan, mungkin juga ribuan. Wah tak disangka bisa sekeren ini. Mas Biyan memotret kegiatan kami bersama ikan-ikan lucu itu. Lupa sudah setumpukan tugas yang ada di meja kerjaku. Lupa juga aku kalau biasanya jam segitu aku sudah makan. Aku juga lupa kalau aku harus segera menyelesaikan proyek dari klien seminggu yang lalu. Saat ini aku ingin menikmati waktuku bersama makhluk Allah yang lain, di dunia yang lain – dunia air. Aku dan ikan-ikan itu seperti saudara yang lamaaaaaaaaaaaaa sekali tidak pernah bertemu, lalu melepaskan kerinduannya. Mas Biyan meminta kami melihat bawah laut lebih dalam lagi. Dan untuk kesekian kalinya, aku merasakan kagum yang luar biasa. Dibawahku tepat berjajar terumbu-terumbu karang yang cantik. Berwarna-warni. Beraneka macam bentuk. Ada yang seperti batu, ada yang seperti kipas, ada yang seperti koran yang digumpal, dll. Satu per satu ikan keluar masuk ke terumbu karang itu. Terumbu karang itu bergoyang-goyang mengikuti alur arus. Angin saat itu sangat sepoi sarat akan kedamaian yang akhirnya kedamaiannya itu menular meresap hingga kehatiku. Aku merasakan juga kedamaian dalam setiap gerakannya. Terumbu-terumbu karang yang beraneka macam itu seperti menyapaku dan mengatakan “hai kawan, lama tak jumpa, apa kabarmu?”. Subhanallah, aku selama ini hanya melihat terumbu karang di internet saja. Tidak pernah melihat langsung pakai mata sendiri. Dan sekarang, mereka didepanku. Dan kukatakan pada terumbu karang itu “hai juga, aku baik-baik saja. Kamu bagaimana kabar?”. Mereka seperti mengacungkan jempolnya padaku sambil tersenyum pertanda bahwa mereka baik-baik saja hingga sekarang. They are all amazing. Very amaze me. Kami puaskan diri kami untuk berfoto bersama karang-karang itu hingga akhirnya mas Biyan meneriaki kami untuk segera naik ke kapal. Kami akan segera menuju ke pulau Cemara Kecil untuk makan siang. Kapal pun berangkat. Warna air berubah menjadi hijau. Kapal kami berhenti disana. Lalu kami berjalan menuju pulau itu sekitar 100 meteran. Pulau kecil itu sangat indah. Pasirnya berwarna putih bersih dan halus. Pohon-pohon cemara tumbuh di pulau tak berpenghuni tersebut. Indah sekali. Pantai tempat kami berjalan itu tidak dalam. Hanya sebatas lutut. Tapi dari atas, kami bisa melihat keindahan isi airnya. Ada bintang laut, ada kerang, ada ubur-ubur, dan berbagai jenis ikan lainnya. Kami sempat berfoto-foto disana. Mas Biyan dan krunya hendak membakar ikan sebagai makan siang kami. Wah, pasti lezat. Sementara mereka memasak, kami berfoto-foto di pepasiran yang ada disana. Dari Pulau Cemara Kecil, pulau Karimun Jawa terlihat seperti bebukitan. Dibawah kami lautan nan hijau dengan pasir putih. Ditambah lagi cahaya matahari yang bersinar terang saat itu, membuat spot foto kami menjadi begitu sempurna. Kami berasa foto dengan beground yang sudah diolah sedetail mungkin melalui Photoshop yang telah diatur brightness, level, contrast, dan saturasi-nya. Kami beraksi dengan berbagai macam gaya. Kadang kami menaikkan tangan kami diatas. Kadang kami mengacungkan jempol, kadang kami bergaya ala anak alay, kadang kami bergaya ala power ranger, dan tak lupa....kami foto melompat.
Ya, itu semua adalah ungkapan isi hati kami yang begitu bahagia berada di pulau yang sangat indah itu. Kami ingin melepaskan semua kekaguman kami itu lewat ekspresi kami. (lagi-lagi) mas Biyan meneriaki kami. Memanggil untuk makan siang. Ini dia yang ditunggu-tunggu. Saatnya makan siang...............! Menu kami adalah ikan kakatua hijau yang dibakar bersama dengan kulit kelapa. Aromanya sungguh merangsang semua sarafku untuk memakannya. Ikan bakar itu di temani dengan sambel kecap dengan irisan bawang yang menggugah lidah. Ada juga mie goreng sebagai teman ikan bakar dengan bumbu buatan sendiri. Khas Karimun Jawa, katanya. Dan tak lupa, krupuk. Makan dengan menu seperti ini, di tempat yang seperti ini, bersama orang-orang yang seperti ini sangat menyenangkan. Kami sangat lahap menyantapnya. Begitu suapan pertama menyentuh lidahku, aliran darahku langsung bergerak cepat tak ingin terlambat menyambut makanan yang akan diangkutnya. Saraf lidahku langsung memberi informasi di otakku untuk merespon sebuah kata: LEZAT. Hmmm, nyammmi, wouw, nlhhhheeeb, hanya itu bebunyian yang terdengar ketika kami makan. Dalam sekejap, makanan kami habis. Tak bersisa. Kami seperti orang kelaparan yang belum makan 7 hari. Kami sampai terlupa bahwa pagi tadi kami sudah sarapan di warung Sunda. Hehehe. Usai makan, mas Biyan mengajak kami ke spot terumbu karang paing indah di Karimun Jawa. Letaknya ditengah lautan diantara pulau Cemara Kecil dan Karimun Jawa. Kami pun segera kesana. Lautan masih berwarna biru gelap. Ini menandakan laut masih dalam. Tapi kapal kami sudah berhenti. Jantung kami sentak berdenyut kencang. Apakah disini spot menarik itu? Dan ternyata memang iya. Disinilah spot terumbu karang terindah itu. Gila! Ini dalam men! Beberapa dari kami masih takut-takut. Terhanyut, tenggelam membayangi kami. Gila! Sedalam ini? Setelah dibujuk-bujuk mas Biyan, satu persatu kami turun ke laut. Oh God, ini memang amazing, beberapa kali aku berhadapan dengan ketakutan, tapi ini harus dihadapi demi sesuatu yang worth it untuk dilihat. “Ayo kedalam!” kata mas Biyan. Kami saling berpandangan. Kami tidak berani. Kami disuruhnya untuk melepas pelampung dan snorkle. Spot dibawah bagus katanya. Kami akan melakukan sesi foto underwater yang sebenarnya. Dan kami harus menahan nafas beberapa saat untuk dapat bisa foto di dasar laut. Kepala kami masih di permukaan. Sumpah, kami (terutama aku) sangat takut masuk kedalam sana. TIDAAAAAKKK!! Aku takut. Sumpah. Ini pertama kalinya kau berenang di laut lepas, dan disuruh langsung menyelam, tanpa alat pula! Ketakutanku semakin menjadi-jadi. Satu persatu teman-teman memasukkan badannya. Begitu keluar, posisi mereka sudah jauh disana. Sekitar 20 meteran dari posisiku berada. Mereka semua melakukan foto. “Ayo mas! Kamu pasti bisa!” beberapa orang termasuk cewek cina itu meneriakiku. Aku terburu terkencing-kencing dicelana. Sumpah aku masih takut. Tak berani. “ayo! Sini nanti aku bantu dari sini!” katanya menyemangatiku. Sekarang tinggal aku disini. Berenang di sisi kapal. Semua orang meneriakiku untuk segera masuk ke dasar laut untuk pemotretan. Kubuka satu persatu alat-alatku. Susah sekali. Sebenarnya bukan susah, tapi berat melepaskannya. Oh pelampung, sampai jumpa. Aku juga melepas snorkle. Kakiku kukayuh lebih kencang berharap tidak tenggelam. Aku masih merasakan ketakutan itu sungguh hebat melanda dan menguasai diriku. Aku coba meluncurkan kepalaku kedalam, tapi tak bisa. Sepertinya ketakutanku mengarahkanku untuk tidak masuk kedalam. Kucoba lagi, gagal lagi. Kepalaku masih di permukaan. Teriakan semakin kencang. Kucoba lagi, masih saja tidak bisa menyentuh dasar laut. Untuk terakhir kalinya, akhirnya aku berpegang pada tali jangkar yang menempel di dasar laut. Aku tarik tali itu hingga aku bisa menyentuh jangkar. Saat itulah aku melihat betapa indahnya dasar lautan. Sumpah keren. AMAAAAAAZIIIING. Aku melihat sebuah kerajaan laut yang luar biasa. Istananya berupa terumbu karang terindah yang pernah kulihat. Disana bertengger ikan-ikan sebagai penghuni kerajaan laut. Aku seperti melihat ada sosok raja laut berupa ikan dengan mahkota dikepalanya, sedang yang lain mengelilinginya. Sungguh indah tiada tara. Ikan-ikan aneka jenis seliweran di depanku. Beberapa menatapku sambil malu, lalu masuk kembali kedalam karang. Beberapa berani menyenggolku. Asik. Sambil berpegangan tali jangkar, mas Biyan memotretku. Puaaaaaaaaaaaaasssszzz rasanya bisa berada didalam. Dan aku lupa kalau aku harus bernafas kembali. Aku langsung bersigap menarik tali keatas, dan muncullah kepalaku di permukaan sambil diiringi tepukan tangan dari semua kawan-kawan baruku itu. Yes!!! Aku telah melalui ketakutan itu dan terbayar dengan keindahan alam bawah laut yang luar biasa.
Puas foto di dasar laut, kami diajak mas Biyan dan kru ke salah satu tanjung yang ada di Karimun Jawa. Aku tidak tahu namanya apa. Lagi-lagi pasirnya putih halus. Airnya sangat bening. Ombaknya sangat kecil disana, sehingga kita bisa bermain-main air sampai puas. Aku sempatkan untuk sholat jama’ Dhuhur dan Ashar disana. Di sepanjang pantai berjajar orang-orang berjualan makanan dan minuman. Mungkin seperti itu rute yang dirancang oleh pelaku jasa pariwisata disana. Aku sendiri sambil melepas lelah, membeli es degan hijau yang baru dipetiknya dari pohonnya langsung, dan beberapa potong pisang goreng. Hmm lezat. Makan seperti itu di tempat seperti itu berasa sangat damai. Kelezatannya terasa hingga ke ujung-ujung saraf lidah. Di pinggi orang jualan tempat aku membeli jajan, ada sederetan pohon kelapa. Satu diantara pepohonan itu berdiri miring. Itulah yang dijadikan salah satu spot menarik untuk berfoto ria. Kata mas Biyan, setiap pengunjung yang datang ke pulau Karimun Jawa tidak akan melepaskan kesempatan berfoto disana. Akhirnya kami pun melakukan sesi pemotretan berikutnya yakni di pohon kelapa miring. Aku tertarik untuk membuat tulisan di pasir. Tak lama kemudian, aku mengambil kayu dan menuliskan “I love you, Joe”. Joe sendiri adalah panggilanku ke istriku. Lalu kupotret dari atas. Ada lagi spot yang menarik perhatianku untuk di foto. Sekumpulan batu-batu lautan yang sama persis seperti yang ada di film Laskar Pelangi. Oh tidak, aku menemukannya. Batuan yang membuat siapa saja ingin berfoto diatasnya. Batuan khas pantai-pantai eksotis. Selama ini aku hanya bisa memimpikannya untuk bisa berada disana. Dan sekarang aku melihatnya langsung, PERSIS didepanku. Aku pun memotretnya. Mengabadikannya sehingga suatu saat jika aku merindukan batu itu, aku bisa melihat dari fotonya. Setidaknya aku pernah bertemu sekaliiiiiii saja. Sambil melepas lelah, kami layangkan pandangan kami di salah satu pulau di depan kami. Pulau Gosong namanya. Tampak sekali siluet pohon-pohon kelapa disana. Oh tidak, siluet, siluet, ini berarti.........sunset! Subhanallah, aku melihat sunset dibalik pulau itu. Luar biasa indahnya. Perlahan-lahan sang mentari melelapkan dirinya di pangkuan Pulau Gosong. Ia hendak melanjutkan tugasnya untuk menyinari belahan bumi yang lain. Warna oranye di langit tercipta sangat indah. Beberapa awan berlari mengejar matahari di ujung sana. Beberapa tetap tinggal diam di tempatnya berada. Saatnya kembali ke daratan....
Puas dengan petualangan kami hari itu, akhirnya kami kembali ke pulau Karimun Jawa. Waktu menunjukkan pukul 7 malam ketika kami menginjakkan kaki kami di penginapan. Mas Kuntet menyambut kami di penginapan. Dia menanyai kami tentang komentar perjalanan kami. Akhirnya malam itu kami habiskan dengan cerita sana-sini tentang petualangan hebat kami hari itu.

Label:

Pulau Sejuta Impian (part 1)

Keinginan untuk datang berpetualang ke Karimunjawa memang sudah lama mengendap di ubun-ubun. Bukan hanya dapat informasi dari berbagai tayangan televisi yang menampilkan keindahan alamnya yang membuat ngiler, juga “panas” karena beberapa teman sudah menikmati cantiknya pulau itu. Kali ini aku harus membayarnya, dengan tenaga, waktu, uang, dan tentunya menyiapkan argumen dengan bos. Biarlah. Toh, jalan-jalan menjadi salah satu sumber inspirasiku untuk berkarya selama ini. Ketidaktahuanku akan rute, medan, dan biaya membuatku tidak mengajak istriku tercinta. insyaAllah kesempatan kedua aku akan bersamanya. Perjalananku kali ini ditemani oleh partnerku bernama Leo Aswandani. Dikantor, ia dipanggil Leo. Ia tidak tahu menahu tentang pulau Karimun Jawa. Tidak tahu apa-apa bahkan. Perjalanan kami dimulai dari Bandung. 22 April 2012 Cicaheum menjadi terminal keberangkatan pilihan kami saat itu. Jam 5 sore kami tiba disana. Kami yang(sama-sama) buta naik bus ini pun sekonyong-konyong masuk di Bus bernama Nusantara yang di depan kacanya tertulis “BDG SMG JPR”. Kursinya empuk, bersih, wangi. Jarak antar penumpang pun cukup renggang. Selimutnya tebal dan halus. Sepertinya ini kelas eksekutif. Pasti mahal, pikirku. Biarlah tak apa. Toh tidak ada lagi bus yang menuju Jepara waktu itu. Kami rebahkan tubuh kami setelah capek berjalan-jalan di kota Bandung. Bus masih sepi. Katanya sih berangkat pukul setengah 7 malam. Kami puas-puaskan diri kami di kursi empuk itu. Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Satu persatu penumpang datang. Mereka melihat-lihat rak tas diatas tempat duduk sambil melihat kertas bawaannya. Sepertinya mencocokkan sesuatu. Jika dirasa pas, kemudian mereka duduk. Hingga akhirnya ada 2 orang wanita berdiri didepan tempat duduk kami. Seperti tidak percaya, berkali-kali ia melihat kertasnya, dan melihat rak tas diatas kami. Begitu beberapa kali hingga akhirnya orangnya berkata, “mas, ini tempat duduk kami”. Oh my God, bus ini bertiket. Bergegas kami pergi dari “singgasana” sementara kami saat itu. Sambil menahan rasa malu, kami bertanya pada kondektur, “pak, harus beli tiket dulu ya?”, si kondektur mengangguk sambil melanjutkan nonton bola di ddepannya. Nah, kan benar. Dia menunjuk loket sambil berkata, “belinya disana dik”. Segera kami berlari menuju keloket bus Nusantara untuk beli tiket, dan parahnya.......tiket habis. Dan bus pun akan segera berangkat. Pupus sudah keinginan kami untuk pergi ke pulau impian kami. Ditengah lesunya harapan dan badan kami pasalnya tidak ada lagi bus yang berangkat ke Jepara sore itu, tiba-tiba penjual tiket sebelah bilang, “kalau Kramat Jati mau dik? Sama kok ke Jepara. Malah lebih murah. Cuma 85 ribu. Dapat makan”. Seperti baru mendapatkan mukjizat, tiba-tiba kami menjadi 100%. Mata kami terbelalak. Dan tak tahu harus berkata apa, tiba-tiba mulutku nyeletuk “ada kamar mandinya pak?”. “ada” jawabnya. Yes. Tidak perlu lama-lama segera kubayar orang itu. Aku adalah tipikal orang yang sering ke kamar mandi jika hawa dingin. Begitu pula aku jika berada didalam bioskop. Kami tidak jadi lesu, juga lemah, atau letih, apalagi loyo (4L). Kami seperti dalam perjalanan bertemu kekasih yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Tidak sabar. Malam perjalanan itu kami isi dengan berkhayal, saling bercerita tentang indahnya pulau itu, dan bergosip tentang rekan kerja kami-tentunya. hehehe. Mimpi pun tidak lepas dari pulau itu. Aku bermimpi bulan madu bersama istriku disana, sedangkan Leo mimpi buka cabang usaha “bebek setan”-nya disana. 23 April 2012 Kami awali pagi kami dengan berada di terminal bus Jepara. Jam 5 pagi waktu setempat. Jalanan masih sepi. Matahari pun belum terang. Kami lanjutkan perjalanan kami menuju pelabuhan Jepara dengan naik becak. Ongkosnya 10 ribu. Kupandangi seisi jalanan yang sepi dan bersih itu. Kubaca satu persatu plang-plang di jalanan. Rumah Sakit Kartini, Koramil Kartini, Jalan Kartini, toko Kartini, Ayam goreng Kartini, Balai Kartini, dan akhirnya pelabuhan Kartini. Semuanya kartini. Kupikir kaya bener orang yang namanya Kartini ini. Dia punya usaha macam-macam di Jepara mulai dari toko sampai pelabuhan semuanya milik Kartini. Hehehe. Bukan kawan, Kartini itu tokoh yang sangat disegani oleh bangsa Indonesia. Catatan pribadinya yang bernama “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu yang memacu wanita-wanita Indonesia untuk maju. Dan, Kartini dari Jepara. That’s all. Itulah kenapa, nama Kartini menjadi kebanggaan warga Jepara. Oke, cukup tentang Kartini. Kembali ke topik perjalananku.
Setengah 6 kami sampai di pelabuhan. Masih sangat sepi. Ada sekitar 6 remaja cowok – cewek yang sepertinya juga mau kesana. Ya iyalah, masa mau ke Bali? Sepertinya mereka semua berpasangan. Buktinya sepasang-sepasang diantara mereka saling mesra. Dan sepertinya pula mereka dari Jakarta. Terlihat dari logatnya. Sudahlah, yang penting mereka ga menggigit, aku merasa aman-aman aja. Apa sih? Disana juga ada penjual sop ayam yang lebih mirip disebut sebagai soto ayam bening daripada disebut sebagai sop ayam. Kalau masalah rasa, mohon maaf, saya tidak bisa mengakui kelezatan makanan daerah lain selain Surabaya. Di Surabaya makanan komplit, rasanya tak usah diragukan lagi. Mulai dari Rawon Setan, Bebek Setan, Bebek Mercon, Bakso Tuyul, Bakso Kepala Sapi, Bakso Granat, dll. Dari namanya saja sudah ekstrem, apalagi rasanya. Luar biasa ekstrem. Hehehe. Harga per mangkoknya 7 ribu belum termasuk krupuk atau minum. Supaya lebih afdol infonya, kutambahkan lagi, harga sewa toilet disana 2 ribu. Mau mandi, mau pipis, mau pup, terserah. Sekali masuk 2 ribu. Kebetulan tipe orang sepertiku ini adalah orang yang tidak pernah lepas pup pagi hari, jadi kalau pas pagi ya harus pup. Oya, bagi yang belum tahu, pup itu buang air besar, sedangkan pip itu buang air kecil. Sudah, jangan tanya padaku kenapa namanya begitu. Aku tidak tahu. Sepertinya aku beruntung saat itu. 1 paket ke kamar mandi (1 paket = pip, pup, mandi) kubayar dengan nol rupiah. Lho kok bisa? Iya, lha wong si penjaganya tidak ada. Aku juga bingung harus bayar ke siapa. Hehehehe Kakiku sudah gemeretek kepingin segera berangkat ke kapal. Begitu loket sudah dibuka, segera kubeli tiketnya. Ada 2 pilihan, mau pakai feri (6 jam) atau ekspress (2 jam). Tentunya harganya berbeda. Feri hanya Rp. 28.500 sedangkan ekspress Rp. 69.000. berhubung yang tersedia hari senin saat itu hanya feri, akhirnya kami beli tiket feri. Feri yang akhirnya kukenal bukan bernama Kartini itu berangkat pukul 9 pagi. Nama kapalnya KM. Muria. Seperti nama sunan yang ada disana.
Sekitar pukul 8, orang-orang sudah mulai masuk ke kapal. Masing-masing mencari tempat yang nyaman. Karena memesan tiket ekonomi, kami akhirnya duduk di dek belakang tanpa jendela. Sebenarnya tidak apa-apa, tapi satu hal yang membuat kami menjadi risih disana: lagu dangdut koplo ala sunatan. Weleh-weleh, orang-orang desa itu bukannya menyajikan pengajian untuk anaknya, malah nyewa orkes dangdut dengan adegan-adegan tidak senonoh itu. Si Leo tampak menahan mualnya. Katanya sih karena getaran mesin kapal. Aku juga sama, tapi bukan karena getaran mesin, lebih karena lagu dangdut koplo yang kudengar ini. 6 jam saudara! 6 jam aku harus mendengarkan suara yang tak balance antara bass dan treblenya itu. Belum lagi goyangan-goyangan si penyanyi yang kadang membuat mulut harus komat-kamit mengucap “astagfirullah”. Hadehhh. Ya sudah, nikmati saja. Ujung pulau itu sudah terlihat. Pulau Karimun Jawa. Pulau impianku saat ini. Pulau yang katanya bule “The Last Paradise In The World”. Pulau yang katanya Juned, Luki, Ayos, Giri, dll – teman-temanku yang sudah kesana – sebagai pulau Amazing. Jejingkrak’an aku didalam kapal. Kira-kira setengah jam lagi aku menginjakkan kakiku dipulau itu. Kegiranganku harus kutahan demi menjaga nama baikku, keluargaku, istriku, tempat kerjaku, dll apalagi saat emosi sudah hampir tidak bisa terkontrol, tiba-tiba ada orang sebelahku menyapaku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Mas Kuntet. Aku sebutkan lagi namanya, siapa tahu aku salah dengar. Aku juga tulis namanya di Hpku, hanya untuk memastikan namanya benar-benar K.U.N.T.E.T. Dia meng-iya-kan. Ya sudah. Dia menanyakan, apakah aku ikut paket? Dalam istilah penduduk setempat, paket adalah jasa yang dijual oleh pramuwisata disana yakni berupa makan, tidur, snorkling, foto, jalan-jalan, dan guide. Biasanya 2 hari 3 malam (sabtu – selasa atau jumat - senin). Harganya macam-macam tergantung fasilitas yang diinginkan seperti mau tidur di homestay, atau rumah apung, atau hotel. Mau makan rumahan atau restoran. Mau snorkling bersama orang lain atau sendiri. Dll. Semuanya menentukan besar kecilnya harga. Biasanya paket berkisar antara 500 rb hingga jutaan per orang. Aku sendiri tidak menggunakan jasa paket. Bisa kok. Kami tiba disana. Menginjakkan kaki pertamaku disana. Ingin rasanya mengusir orang-orang disekitarku, agar aku bisa meluapkan kegiranganku. Jingkrak-jingkrak sambil teriak ga jelas. Menari-nari sambil bernyanyi lagunya Elo “Masih Ada” atau “I’m yours”-nya Jason Mraz. Keberadaan mereka hanya membuatku menahan itu semua. Lagi-lagi demi nama baik. Nama baik, saudara! Beruntung mas Kuntet menunjukkan aku medan disana. Dia mengajak kami tinggal di homestay bernama “Prapatan” dengan harga 70 rb per malam. Letaknya memang di perempatan jalan menuju ke kota. Ketika aku bilang “kota”, Jangan bayangkan kota seperti Jakarta atau Surabaya dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi ya. Itu hanya sebutan orang setempat untuk daerah dengan fasilitas kantor-kantor pemerintahan, bank, dan beberapa toko. Pemilik homestay Prapatan ini adalah sepasang kakek-nenek yang tampak senang ketika kami datang. Keduanya langsung sibuk menyiapkan kamar. Si bapak memastikan kamar dalam kondisi bersih. Si ibu memasakkan air panas untuk kami, lalu menyajikannya bersama dengan teh celup, kopi, dan gula. Untuk menikmati itu semua, kami harus meraciknya sendiri. Mas Kuntet juga menawarkan aku untuk ikut snorkling bersama orang-orang yang memang sudah beli paketan. Harganya 130 rb per orang. Hanya 1 hari saja dari jam 9 sampai jam 6 sore (sunset). Sudah termasuk guide dan makan siang. Kami deal. Sore itu kami isi dengan berkeliling pulau dengan motor Mio yang ditawarkan oleh si kakek. Semoga si Mio ini tidak mudah meledak-ledak seperti yang sering kutemui di Surabaya. Hehehe. Kami melihat ada alun-alun, ada homestay yang berjajar sepanjang jalan, ada beberapa kantor pemerintahan, ada sekolah SD, SMP, SMK, dan Madrasah Ibtidaiyah. Ada pula nelayan-nelayan yang sepertinya baru datang dari melaut. Bawaannya cukup banyak, bergentong-gentong ikan laut. Ada juga orang Cina dari Surabaya yang mau Prewed disana. Orangnya ramah. Kebahagiaan tampak jelas dimukanya. Mau nikah kali, makanya kayak gitu. Hehehe.
Warung makan disana cuma 1. Jenisnya warung Prasmanan. Ada di pinggir alun-alun. Pemiliknya orang sunda yang sering marah-marah ke pegawainya. “hei kau, masa dandan lebih dari 1 jam. Ini ada orang mau makan, layani!” katanya sambil teriak ke gadis dibalik kamar. Si pemilik sendiri adalah pria berumur sekitar 38 tahunan. Berperawakan tegap seperti ABRI apalagi potongan rambutnya cepak. Mas Kuntet bilang, warung ini paling laris. Setiap hari tidak pernah sepi (ya iyalah, cuma 1 doang!) lalu bilang juga kalau si bapak itu belum nikah. So what gitu loh mas? Ini kok malah jadi bergosip ria. Hehehe Makanan disana berkisar antara 8ribu hingga 10 ribu. Makanan rumahan. Tidak apa yang penting bisa makan. Hehehe Malam hari kami gunakan untuk ngobrol-ngobrol dengan mas Kuntet tentang pulau Karimunjawa. Katanya, pulau nan mempesona ini telah banyak dikunjungi turis-turis dari berbagai penjuru dunia. Kebanyakan mereka ingin melakukan survei tentang kehidupan bawah laut. Mas Kuntet juga bercerita pada kami tentang pengalaman-pengalamannya selama menjadi guide di pulau itu. Ada yang lucu, ada yang menyedihkan, ada pula yang bikin jengkel. Sisa malam itu kami gunakan untuk berbelanja oleh-oleh di depan penginapan kami. Beberapa toko souvenir berjajar disana. Toko-toko itu menjual aneka macam kerajinan dari bahan laut, kaos, dll. Tidak perlu kuatir, harganya murah-murah kok. Baju ukuran dewasa hanya 40 ribu saja. Hampir sama seperti harga baju di pulau Jawa. Dan pilihanku jatuh pada gambar kura-kura diatas tulisan “Karimun Jawa” warna ungu. Aku beli 3 untuk teman-teman kerjaku di Surabaya.

Label:

Jumat, 16 Oktober 2009

pantai kuta lombok




Label:

Senin, 05 Oktober 2009

hari 2: hari apung

Hari kedua tiba.
Kami berada di terminal Ubung, Denpasar Bali. Pun sama, kami “diserang” calo. Dan sepertinya calo-calo di Bali lebih keras dari Jawa. Apa mungkin karena berbeda budaya dan bahasa ya? Aku menolak mereka dengan alasan dijemput. “kami dijemput pak” itu saja yang sering aku katakan.
Kami sendiri sebenarnya juga bingung. Kami muter-muter di terminal itu. Mungkin inilah yang membuat para calo agak jengkel dengan kami, katanya di jemput tapi masih sliweran di terminal. Mereka pun menggerutu dengan bahasanya sendiri. Ah, emang gue pikirin. Aku lalu menghubungi Eko, teman sekolahku dulu.
Tak lama kemudian, ia pun datang. Kami dibelikan sarapan di Rumah Makan Padang di depan terminal. Ah enak rasanya.
Makna hidup no 3 : teman adalah orang yang bisa membantu kita disaat genting sekalipun.
Dan kami lalu melanjutkan perjalanan kami hingga ke pelabuhan Padang Bai. Kami naik angkutan dulu sampai di terminal Batu Bulan di Bali, lalu dilanjutkan naik bis hingga ke pelabuhan. Kami turun dipertigaan Padang Bai. Lalu kami berjalan sekitar 1 km. tiba disana sekitar pukul 11 WITA.
Pelabuhan Padang Bai dan Lembar terkenal dengan calonya yang luarbiasa sangat meresahkannya. Tahun kemaren saja, kami kena tipu di 2 tempat itu. Akhirnya kami putuskan untuk menjadi “tokek budheg”. Kami cuekin aja calo-2 itu.
Kami langsung beli tiket dan lalu naik kapal ke Lombok.
Seperti biasa, kapal masih didominasi oleh turis asing yang ingin berlibur ke Lombok.
Kami tiba di pelabuhan Lembar sekitar pukul 4 sore. Tidak ada yang special untuk diceritakan.
Kami langsung naik angkutan menuju ke terminal Sweta, Mataram. Dan lagi-lagi kami mendapat kabar kalo terminal Sweta jauh lebih berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari pelabuhan Syahbandar Lampung. Calonya sangat memaksa, dan banyak copet disana.
Kami lalu menaiki engkel (sejenis mobil colt bison) ke arah Pancor Selong, Lombok Timur.
Disana kami berkenalan dengan ibu yang sangat baik hati yang akhirnya menjadi “ibu angkat” kami selama kami di Lombok. Namanya bu Haji Ijun. Orangnya sangat baik. Sangat-sangat baik. Dari awal kenal, kami langsung diajaknya dirumahnya. Dijamunya dengan baik, bahkan ketika kami bilang kalo kami hendak ke Rinjani, beliau langsung membawakan kami bekal yang sangat banyak.
Luar biasa orang ini, pikirku. Aku sudah speakless. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa “terima kasih” yang sudah kami ucapkan. Beliau sangat baik. Pengetahuannya sangat luas. Ketiga anaknya telah berhasil. Semuanya ada di kota-2 besar Jakarta, dan Surabaya. Lulusan ITS, dan UI. Ah pokoknya speakless. Kami tidak menyangka orang dengan penampilan sangat sederhana layaknya orang asli Lombok, namun pengetahuannya melebihi orang kota. I am really speakless.
Makna hidup no 4 : jangan melihat orang dari penampilannya.
Makna hidup no 5 : seperti kejahatan, kebaikan itu ada dimana-mana. Tinggal pilih saja, kita mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat.
Kami lanjutkan perjalanan sampai ke Pancor. Kerumah om Herman. Kebetulan saat itu si Capres Jusuf Kalla lagi ada disana.
Ok, ini adalah laporan keuangan selama perjalanan dari sby sampai ke Lombok.
Kereta Sby-Bwgi Rp. 19.500
Feri ke Bali Rp. 5.700
Bis ke Ubung Rp. 25.000
Angkutan ke Batu Bulan Rp. 7.000
Bis ke Padang Bai Rp. 15.000
Feri ke Lombok Rp. 31.500
Angkutan ke Sweta Rp. 15.000
Angkutan ke Pancor Rp. 10.000

Label:

lombok trip sesi 2


Hari pertama kami, kami habiskan di kereta Sri Tanjung jurusan Sby – Banyuwangi.
Kami berangkat dari stasiun Gubeng pukul 2 siang. Tujuan kami adalah stasiun Ketapang. Stasiun itu cukup dekat dengan pelabuhan Ketapang, tinggal jalan kaki, tidak sampai 10 menit sudah sampai.

Menit demi menit didalam kereta kami jalani dengan cukup gelisah. Kami tidak sabar ingin segera sampai di Lombok.

Hpku berdering. Sms dari adikku masuk. Dia bilang, angin di pelabuhan Lombok cukup kencang, itulah kenapa salah satu tetanggaku tidak jadi pulang kampung ke Lombok. Ow ow…. Sepertinya mencekam sekali. Kami lalu berdiskusi, apa tidak sebaiknya kita keliling bali saja. Dan akhirnya dengan tekad yang cukup kuat, kami putuskan untuk pergi saja ke Lombok, toh niat kami juga baik. Tidak ada niat buruk sedikit pun. Insya Allah.

Makna hidup no 1 : ketika kita berniat untuk melakukan suatu kebaikan, maka seketika itu pula setan mencoba untuk memalingkan muka kita dari tujuan kita.


Kami sampai di stasiun Ketapang pukul 23.30 malam. Dan kami langsung melanjutkan perjalanan kami ke Bali, namun sebelumnya kami berhenti dulu untuk membeli teh hangat di sekitar pelabuhan.

Tips untuk para backpacker atau wisatawan dengan uang pas-pasan, kalau berada di stasiun, pelabuhan, dll sebaiknya jangan terburu-buru. Kuasai medan terlebih dulu. Diamlah sejenak, atau anda bisa duduk di warung-warung terdekat. Karena kalo tidak demikian, kita pasti “diserang” para calo. Berbuatlah seolah-olah kita adalah penduduk setempat yang sudah tahu rute perjalanan.



Sebenarnya aku sendiri tidak habis bertanya kenapa calo-calo itu menjadi calo. Yang sok perhatian pada orang lain, mengikuti orang lain berjalan, dll. Ah sangat meresahkan. Mereka tidak henti-hentinya menawarkan tiket yang (katanya) lebih murah. Bull shit. Aku pernah dibohonginya, ternyata harga yang diberikan itu bukanlah harga tiket, tapi harga jasanya, dan ketika kita sudah berada didalam kendaraan maka si penarik tiket akan menagih tiket kita. Menjengkelkan ga sih?


Makna hidup no 2 : di dunia ini banyak orang yang tampak seolah-olah membantu kita, namun ternyata malah menyesatkan kita dan mengambil keuntungan dari kita.

Label:

Senin, 10 November 2008

next trip planning

waduh..liburan belum datang. tapi keinginan untuk berlibur sudah menggebu-gebu.

ada beberapa kawan yang mengajak.

si Ika mengajak ke banten. diutaranya (laut jawa), ada pulau kecil nan indah. aku lupa apa namanya. habis gitu langsung lanjut ke belitung. waduh,untuk yang satu ini, aku harus tanya-2 dulu ke ayos atao ke pak pak Nixon Glenn dulu deh coz mereka udah pernah kesana. tapi Ika bilang kalo kita jalan-jalannya sambil mbambung aja, biar seru.

kalo melihat riwayatnya selama ini yang terbiasa hidup dengan serba kekurangan, aku tak perlu meragukannya, tapi.....masalahnya ia cewwek. dan ia meyakinkanku kalo ia pun siap walopun harus makan daun kering.
gile bener nih cewek. dia pun siap cuti beberapa minggu untuk ini.

senada dengan si Ika, mas taufik mengajak keliling jawa dan belitung. trus mampir ke palembang. wah kebetulan banget, ada si ferdi dan tomi yang emang dari dulu ingin aku mampir kesana. hmmm, kayaknya perlu diperhitungkan nih. eit, tunggu dulu, diBatu sangkar ada pak Marjohan yang juga sudah menungguku. dia bilang kalo disana ada banyak objek wisata yang bisa dikunjungi, terutama wisata herritage peninggalan kerajaan hindu.

trus, si Jutha mengajak keliling kalimantan barat, dan sekaligus nyebrang ke pulau natuna. sial, natuna? itu kan pulau yang sudah lama aku ingin kunjungi. kenapa ia mengingatkan aku lagi. natuna....hmmm, sepertinya ini lebih menggiurkan dari tawaran si Ika, lebih-lebih si Jutha menjanjikan ia akan menanggung biaya selama perjalanan disana. jadi aku cuma menyiapkan duit buat ke pontianak aja. sip nih kayaknya.

si Yuni ngajak ke Aceh. ia akan membawaku ke Sabang. ia ingin menunjukkan aku tugu nol derajat (kalo ga salah) yang merupakan titik awal Indonesia dihitung dari bujur sebelah barat. argggh, tawaran yang menarik pula.

tapi bagaimanapun itu aku masih ingin ke papua. ,eski cuma liburan aja. aku masih mengajukan beberapa proposal ke perusahaan agar ia mau menjadi sponsorku kesana. mudah-mudahan dapet ya.

kalo diambil kesimpulan sih, aku bisa aja membahagiakan semua kawanku itu dengan cara :
aku dan mas tofik pergi ke bogor, bandung lalu ke jakarta, jemput ika. kami lalu ke banten, nyebrang ke pulau kecil itu. dari sana ada perahu nelayan yang ke belitung. kita numpang naik itu. lalu kami bisa ke palembang, berkunjung ke tomi dan ferdi. dari sana kami melanjutkan perjalanan ke batusangkar, ke rumah pak marjohan. dari sana kami ke Aceh, melanjutkan perjalanan ke sabang bareng yuni.
dari sabang, kami ke pulau Natuna, janjian dengan Jutha untuk ketemu disana. habis dari natuna, kami bareng jutha ke kalbar. dari sana kami jalan-jalan keliling kalimantan barat. kami pulang naik kapal ke tanjung priok kembalikan ika ke alamnya, dan kami (aku dan mas tofik) pulang ke sby.
wouw, keren banget. tapi.....duitnya....?

hmmmm, aku perkirakan sih habis sekitar 1jutaan gitulah. dengan asumsi, kami bertemu semua teman-teman kami disana, jadi kami bisa dapat makan dan tidur gratis. hehehe.


au ah, mudah-2an terwujud. aku harus menabung.

Label:

Jumat, 15 Agustus 2008

trip award

ni buat sekedar memberi apresiasi kepada apapun dan siapapun selama perjalanan kami 2minggu di jawa-bali-lombok kemarin:

lagu terbanyak dimainkan : selalu mengalah - seventeen
lagu ter-masuk ke kalbu : damai bersamamu - haddad alwi
makanan terbanyak dimakan : nasi bungkus, dan nasi pemberian orang hehehe
tempat yang paling sering ditiduri : kereta api
tempat yang makanannya enak : di depotnya pak Amari
tempat favorit : pantai surga (heaven on the planet) yang orang pribumi ga boleh masuk tuh!!!
runner up tempat paling ok : pantai gili trawangan, asoy pak!!!!
makanan terparah : ketupat basi. habis ga ada duit lagi :(
orang ter-baik : Mr. Sam - guideku selama di lombok
teman terbaik : wawan, pegawainya om herman
tempat tidur ter-nyaman : penginapan yang disewa oleh roni
tempat tidur paling ga enak : (sorry fren) tempat kerjanya temanku didenpasar
tempat ter-banyak penipuannya : pelabuhan lembar dan padang bay
ter-banyak menghabiskan uang : penyebrangan bali-lombok
turis terfavorit : Greg from Italy.
transportasi ter-nyaman : atapnya engkel (angkutan di lombok). panas buouw!!!

apa lagi ya?

oya, kalo aq ditanya, bisnis apa yang pasti laku dilombok, aq jawab : lampu.
bayangin men, selama perjalananku berkeliling lombok dari utara ke selatan, dari barat ke timur, kalo malam pasti GELAP. apalagi kalo menelusuri hutan-2. hiiiii takut...!!!

Label:

Jumat, 08 Agustus 2008

Banyuwangi Islamic School

tadabbur Alam day 10: sekolah Alam

ni dia nih yang aku tnggu-2. datang ke sekolah alam yang pernah diceeritain mas Topik. duh ga sabar.

pagi hari, selepas pamitan ma teman baikku ronny, aku langsung pergi ke banyuwangi. kami dah janjian ketemu di depan kantor pemda banyuwangi.

lama sekali kami menunggu, orangnya ga datang-2. kami menunggu didepan depot buAmari. waduh bikin lapar aja. ah, mana duit dah habis nih. cukup sampai kesby aja



aku pun cuma beli popcorn yang harganya cuma 1000 ja.
setelah susah menghubungi mas Farid dan akhirnya bisa juga, ternyata kami disuruh masuk ke depot itu.
hah? depot buAmari?ngapain?
ternyata, pak Amari yang tak lain tak bukan adalah suaminya buAmari, adalah kenalannya mas Farid. dia salah satu alumni ESQ dari banyuwangi.
kami pun kesana, dan.....hebat.... kami disambut dengan baik. orangnya ramah, baik, mengajak kami ngobrol, dan tentunya..........makan!!!!
satu kata yang aku nantikan dari tadi. kami kelaparan dan tidak punya uang lagi. kami pun makan bareng sambil ngobrol sana-sini.



lelaki tua itu ternyata adalah pensiunan dari pertamina. ia bilang, percuma kita demo BBM sana-sini. lebih baik kita berpikir bagmn caranya kita bisa berkreasi. thats much better. iya sih, aku yang dari dulu anti demo, mengiyakan apa yang disampaikan pak Amari.
ah, tahu gitu, dari tadi kami sudah masuk ke depot. ga perlu menunggu di depan. hehehe.

kami melanjutkan perjalanan ketempat mas Farid. tempat dimana sekolah tempat penggemblengan manusia bermutu berada. lokasinya di genteng kulon. ni poto-2nya:









ah, mulutku tak berhenti berkata "subhanallah". memang sekolah ini keren banget. cara didiknya. kualitas muridnya bagus-2. aku masih ingat ketika aku bertanya sesuatu pada murid sana, dan ternyata mereka menjawabnya dengan menggunakan bahasa inggris. keren. insyaAllah aku bakal postig khusus utk itu.

oya, dari obrolanku dengan mas Farid, ternyata aku baru tahu kalo pak Amari itu dulu mantan direktur di pertamina. ancuuuuuur. berarti baru aja aku makan dan tiduran di rumah pembesar perusahaan raksasa dinegeri ini. ya Allah....!!!

Label:

surga vs neraka

tadabbur Alam day 9: di Gilimanuk

Allah memang adil.
setelah hari kemarin penuh dengan ketegangan, dan kami harus menahan lapar dan haus dimalam harinya, kam pun melanjutkan perjalanan ke gilimanuk. no problemo.

disana, (rencananya)aku mau numpang mandi en charge hp di rumah rony, teman baikku di STM dulu.
eh ga tahunya, aku disewakan penginapan olehnya. ah rony, repot-repot..... aja...
ni suasana kamar penginapannya.




rony kerja di Indonesia Power. saat dia kerja, aku dipinjami motor olehnya. dasar orang yang ga bisa diam, aku pun jalan-jalan sama mas topik. ni poto2nya:






tempat itu bernama karangsewu. tempatnya sepi, disana terhampar luas padang rumput yang habis dimakan oleh sapi.
ah senangnya. damai hati ini melihat alam yang sepi, tak berpolusi. thanks ron atas kebaikanmu. kami lalu menginap ditempat yang super nyaman itu.
baru kali ini dalam perjalanan kami, kami merasa bak raja. bersanding di sebuah penginapan sepi. serasa milik sendiri. ruang ber AC. kamar mandi nyaman,kasur empuk, makanan tersedia banyak.

wis pokoke thanks ya ron.....!!!!

Label:

padangbai

tadabbur alam day 8:

ni lanjutan cerita jalan-jalanku.
pulang dari gili, aku segera ke pelabuhan Lembar menuju ke Bali. aku ga mengira, hari ini adalah hari tersialku selama perjalanan.
sampai di pelabuhan padangbai, Bali, banyak sekali calo-2 yang nawarin bis ke denpasar.
sumpah, aku ga tenang, kondisinya ruwet. orangnya maksa-2 gitu.
ada 2 ibu duduk di kantor polisi. alih-alih ternyata ia masih shock karena baru saja ditipu. ia pun diancam oleh calo-2 yang galak-2 itu. aku juga dikejar oleh calo-2 itu. aneh, padahal, aku udah bilang ga mau, tapi masih maksa aja.
akhirnya, malam pun datang. ibu2 tadi meminta kami untuk menemaninya sampai di bangli, bali.ok deh, sekalian nolong orang.
trus, karena sudah malam, tidak ada angkutan lagi, maka mereka memutuskan utk cari penginapan.
lalu.....
mereka meninggalkan kami, setelah kami membantu menyelamatkannya dari ancaman para calo jahat itu.
ya sudahlah....nasib kami masih terkatung-2. kami ga mungkin sewa penginapan. jalanan pun rawan. para calo itu masih mengintaiku karena dendam aku telah menyelamatkan ibu2 yang jadi incaran kejahatannya.

kami beranikan diri keluar dari "persembunyian" kami di masjid dekat sana.
kami turun ke jalan. sepi.
lalu kami segera berngkat menuju ke jalan raya. kami berjalan, tidak tahu sampai berapa jauh, berapa lama. sial, udah malam, ga ada duit, ga ada sinyal im3, ga ada angkutan, ga ada teman deket sini. ancuuuuuurrrr....!!!

lalu berhentilah mobil pengangkut sayuran. dari logatnya, orang ini dari lombok. dia menawarkan pergi ke denpasar dengan tarif 60rb untuk 2 orang. gila, kami tidak punya duit. lagipula, kami kemarin berangkat ke padangbai dari denpasar cuma 10rb per orang. kami ga mau. orang itu memaksa. sial.apa-2 an ini. kalo orang udah ga mau jangan paksa dong. ini kejahatan. bukan masalah duitnya (walopun duitnya nipis banget....), tapi caranya itu loh yang kami ga suka.

lalu ia menyetop taksi yang lewat. ia meng-oper kami ke taksi itu dengan tarif cuma 40rb. tahu ga? si sopir taksi itu diminta duit 20 rb dari sopir gila tadi itu. kami pun mengiyakan utk naik taksi saja.

dr supir taksi itu kami sadar kalo calo-2 didaerah sana cukup jahat , kejam, dan bengis. sopir itu pernah mengalami hal buruk. dia dikereoyok oleh para calo gara-2 angkut penumpang dipelabuhan.

agrrghhhh... sudahlah.
ternyata, kesialanku ga berhenti sampai disana.
setibanya didenpasar, aku langsung menuju tempat temanku. ternyata, ia tidak menyambutku sama sekali. aku ditemuinya ditempat kerjanya yang sempit. tidak diberi minum, makan, atau tidak dipersilahkan tidur. tidur pun ditempat kerjanya.
aduh.....dimana kepekaan hatimu wahai manusia...!!!

very bad day....!!!!


ni teman perjalananku dari Gili ke bali. namanya Greg. ia asli Italy. (mungkin)satu2nya warga asing yang tidak bangga dengan negaranya sendiri. ia mencacimaki negaranya.
ia bilang, dia disana cuma kerja untuk beberapa bulan saja, dan lalu mengumpulkan uang utk keliling dunia. dia sudah ke Afrika, indonesia, thailand, dll. dia bertanya dimana tempat yang paling bagus di Indonesia.
aku merekomendasikannya untuk pergi ke papua dan kalimantan.sip....

Label:

Rabu, 16 Juli 2008

dibalik gili. fenomena baru

banyak kisah menarik bibalik gili yang glamour dan eksotik itu.

bulan kesiangan


sisa party semalam. masya Allah... bebas banget party semalam.


dinner digili. tetep aja..MAHAL.


warung remang-remang...tapi rame banget men.


pengamen tapi orang luar negeri. why not? suaranya enak banget. apa dia artis ya di negerinya sono? au ah gelap


sunset di gili. oya, di lombok tu, air mineral yang terkenal bermerk "netral" dan "narmada", so , susah banget cari aqua.


siluetnya mas tofik. dapet ga ya? hehehe maklum amatiran


ya ampun narsisnya....!!tahu ga dia natap apa? liat aja poto dibawah ini....!


sssttt, ada cewe lari....

cewe...godain kita dong!!!



aku suka banget awannya. so capture deh!!!


suasana didalam gili. ada padang rumput yang luaaaaaasssss banget. banyak hewan keliaran. termasuk manusia yang tergolong hewan karena main s*x di dalam hutan ini.




dibalik kehedonan turis dipinggir pantai yang menghamburkan uangnya demi kepuasan belaka, ternyata didalam pulau itu banyak sekali orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. ironi....




inilah party yang aku maksud. tiap 3kali seminggu diadakan party ditempat yang berbeda secara bergilran. jelas disana, orang berpesta pora. minum bir sampai mabuk, merokok, disko, bahkan sampai seks. mereka bebas mencari pasangan dengan siapapun. sipemilik tidak boleh marah jika pasangannya harus "bermain" dengan orang lain.

biasanya turis cewek mencari cowo pribumi, itu kata mr. sam. terutama yang kulitnya sawo matang kayak gue nih. kalo kamu mau, kamu bisa janjian sama bule buat party nti malam. dijamin puas. beliau meneruskan. kami sempat tertarik. tapi untungnya jam 10 malam Allah sudah menidurkanku. jadi kami ga jadi ikut party. syukur....


anak-anak kecil yang ga peduli sama turis yang datang. bagi mereka gili adalah rumahnya , dan ia bebas mau bermain apa saja dirumahnya, ga seperti orang-orang dibawah ini yang hanya puas menjadi kuli-kuli kaum matrealistis.










setelah berjalan jauh menyusuri pulau gili dari timur ke barat dan setelah puas moto-moto, kami duduk dipinggir pantai sebelah barat. kami duduk kecapekan, menikmati sunset.
mas tofik memainkan mp3 di hapenya. lagu yang diputar adalah lagunya hadad alwi yang "damai bersamaMu", sebuah lagu recycle dari penyanyi chrisye.
menikmati indahnya alam dan diiringi lagu itu, tak terasa airmata ini turun. betapa kecil dan bodohnya diri ini dihadapan Tuhan. ingin sekali kulunturkan sombong didiri ini.
Tuhan ampuni aku. sungguh diantara penciptaanMu terdapat tanda-tanda(kebesaranMu) bagi orang-orang yang berpikir (An Nahl 69).

Label: