Kamis, 09 Juni 2011

Link and Match Program

oleh: Gusti Mohammad Hamdan, ST

Aku mendengar kata ini sejak aku berada di STEMBA. Bu Yekti yang mengenalkanku ketika aku bertanya apa bahasa inggrisnya PKL (Praktek Kerja Lapangan). Hari ini aku sangat beruntung karena aku bertemu langsung dengan penggagasnya. Beliau, pak Wardiman Djojodiningrat. Sebuah nama yang wajib dihafalkan sebagai nama menteri Pendidikan dan kebudayaan pada era orde baru.

Program ini adalah sebuah jawaban atas permasalahan bangsa yang sudah sangat klasik yakni pengangguran. SMK sebagai sebuah institusi yang mencetak lulusan kerja diharapkan benar-benar mampu mengurangi angka pengangguran di negeri kita tercinta Indonesia ini. Untuk membekali siswa SMK dengan keterampilan kerja dan mengenalkan mereka pada dunia kerja, maka pemerintah mencanangkan program Link and Match yakni program magang di perusahaan yang sesuai dengan jurusan yang diambil siswa.

Pada saat itu pemerintah bersama dunia industri telah membuat sebuah silabus untuk mengatur pelaksanaan Link and Match program ini. Di Jakarta pada saat itu, beberapa industri telah melaksanakan silabus tersebut dengan tiap beberapa siswa akan mendapatkan satu pembimbing dari perusahaan dan sekolah. Satu bulan siswa akan mengerjakan pekerjaan A, lalu bulan berikutnya B, berikutnya C, dst. Program ini (sejatinya) mampu membuat siswa SMK menjadi lebih terampil dan menjadi siap kerja. Namun dalam pelaksanaannya, program ini tidak berjalan mulus. Beberapa sekolah menempatkan siswa di perusahaan yang kurang tepat. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi bingung apa yang harus dilakukan. Satu kasus yang diangkat pada saat itu adalah tentang sekitar 200 siswa magang di sebuah perusahaan raksasa di bidang otomotif di Jakarta. Pada seminggu awal melakukan magang di perusahaan, sekitar 20% dari siswa membolos, selebihnya kurang memiliki attitude / sikap yang baik. Setelah ditanya tentang alasan membolos, (diluar dugaan) ternyata siswa bingung tidak tahu harus berbuat apa di perusahaan tersebut.

Link and Match program menuntut sebuah sekolah untuk memberikan pelatihan terlebih dulu pada siswa tentang lingkungan kerja. Beberapa diantaranya adalah tentang disiplin, sikap, dan kompetensi siswa yang berkualitas. Ini bisa dilatih ketika siswa berada di lingkungan sekolah. Jam datang misalnya. Siswa harus dilatih untuk datang tepat waktu, tidak terlambat dan tidak membolos. Kenyataannya di sekolah, jika siswa terlambat, maka sekolah masih memberi toleransi, bahkan (beberapa sekolah) toleransinya sangat besar. Ini membuat siswa tidak terlatih disiplin dari sisi waktu.

Selain itu dunia industri juga menuntut siswa untuk memberikan hasil kerja yang maksimal. Misal, perusahaan Televisi. Jika kondisi TV yang diproduksi bagus, maka akan diberi kode “Accept”, sedangkan jika kondisi produksinya buruk, maka akan mendapatkan kode “Reject”. Dunia industri sangat ketat terhadap mutu hasil produksi, maka untuk itu dibutuhkan karyawan yang benar-benar mampu bekerja dengan baik. Kenyataannya berbeda dengan pendidikan di sekolah. Jika siswa melakukan kesalahan, maka siswa masih diberi nilai standar, bahkan jika siswa melakukan kesalahan pun toleransinya masih cukup besar. Ini sangat tidak mendidik siswa untuk bisa memberikan kualitas kerja yang optimal.

Saat ini dunia sekolah menjadi dilemma seperti “daging hamburger” yang diapit oleh dua roti. Bingung menentukan pilihan, apakah harus mengikuti standar yang diinginkan dunia industri sehingga harus menerapkan sistem pendidikan yang ketat dan super disiplin, ataukah mengikuti arahan dari pakar-pakar psikolog tentang kelembutan dalam pendidikan yang telah mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak hukum. Jika sebuah sekolah menerapkan kedisiplinan pada siswanya, lalu memberikan hukuman pada siswa yang terbukti bersalah, maka pihak orang tua dan lembaga hukum anak tidak menyetujuinya dan akan menyalahkan sekolah atas keketatannya. Namun jika terlalu disayang, maka anak tidak bisa berkembang terutama dalam pendidikan sikap dan perilaku.

Itulah kebingungan yang dihadapi oleh sekolah. Untuk menanggulangi hal ini, sekolah harus memiliki karakter sendiri bagaimana bisa menghadapi kedua hal tersebut secara bersamaan. Kata Bang Jay, seorang pakar bisnis dan pelatihan mental mengatakan bahwa dia pernah diundang untuk bicara didepan siswa dan orang tua siswa tentang pentingnya sebuah penanaman sikap dalam sebuah kegiatan rapat guru dan orang tua siswa. Ini bisa ditiru, karena menurut beliau hasilnya cukup optimal. Beberapa orang tua menjadi sadar bahwa jika mereka menitipkan anaknya disekolah, maka pihak sekolah punya kewenangan untuk juga mendidik anak tersebut. Dan salah satu bentuk pendidikan yang diajarkan disekolah adalah mengenai sikap.

Beberapa keluhan dunia industri ini dinilai wajar, karena tidak ada satu pun manusia didunia ini yang mau memiliki anak buah yang tidak memiliki sikap yang baik, seperti: sering berbohong, tidak pernah tepat waktu, tidak mau menerima masukan, dll. Untuk itu, maka selain kompetensi, sikap juga akan terus menjadi pertimbangan dunia industri untuk menerima karyawan. Dengan Link and Match program, pemerintah berusaha untuk menjawab permasalahan ini dengan cara membekali siswa dengan pengetahuan dan pelatihan dunia kerja.

Link and Match program juga menuntut sekolah untuk memilihkan dunia industri yang tepat pada siswa, baik pada saat magang maupun pada saat lulus. Contoh kasusnya adalah jumlah lulusan SMK jurusan otomotif di daerah Bondowoso sangat tinggi. Ini tidak sebanding dengan kebutuhan dunia industri otomotif di daerah itu. Sekolah yang menerapkan Link and Match program dengan baik akan mengarahkan siswanya untuk bekerja di daerah dimana daerah tersebut membutuhkan tenaganya.

Bagi siswa yang hendak melakukan magang atau kerja di industri yang bidangnya tidak sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya di sekolah, maka sekolah bisa mengarahkan jenis-jenis pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan oleh siswa tersebut di perusahaannya YANG TERKAIT DENGAN JURUSANNYA. Salah satu contoh adalah siswa jurusan desain grafis melakukan magang di instansi dinas perindustrian. Sekilas memang tidak ada keterkaitan antara jurusan yang dipelajari siswa dengan departemen dimana siswa berada. Namun demikian, sekolah bisa mengarahkan siswanya untuk lebih kreatif dalam memandang sebuah pekerjaan, seperti: mengerjakan brosur dinas perindustrian, pembuatan kemasan untuk UKM-UKM binaan dinas perindustrian, dll. Dengan melakukan pekerjaan yang sesuai, maka kompetensi siswa bisa terarah dan hasil kerja siswa akan lebih optimal.

Link and Match program kini hanya wacana. Buktinya hingga sekarang tidak ada sekolah yang benar-benar menyiapkan siswanya untuk siap terjun didunia kerja. Mereka hanya mengajarkan siswanya pelajaran sesuai dengan kurikulum yang dibuat. Tidak ada pendidikan sikap. Tidak ada pelatihan dunia kerja. Beberapa sekolah bahkan membiarkan siswanya mencari tempat magang sendiri tanpa tahu pasti apa yang bisa dikerjakan oleh siswa di perusahaan tersebut. Beberapa sekolah juga tidak memantau apakah siswanya masuk atau tidakkah pada saat magang. Semuanya lepas kendali. Bukan seperti itu tujuan dari Link and Match program ini.

Saat ini bpk Wardjiman bersama gubernur DKI Jakarta Bp. Fauzi Bowo sedang merumuskan konsep baru tentang magang siswa SMK yang bertajuk PPKSK (Program Pelatihan Kompetensi Siap Kerja). Setelah dipaparkan oleh beliau tentang program ini, saya menemukan perbedaan pada pembangunan mental guru dan pembangunan infrastruktur. Kasus yang diangkat adalah sekolah yang ada di Jakarta. Dengan siswa berjumlah lebih dari 600 siswa, sedangkan computer yang dimiliki hanya 10 unit. Ini tidak berimbang. Semestinya pada saat berada di laboratorium komputer, setiap siswa harus memegang satu komputer. Itu idealnya.

Pada saat ditanya, apakah memungkinkan program PPKSK diterapkan di Jawa Timur khususnya Surabaya yang saat ini lebih dikenal sebagai kota vokasi, beliau hanya menjawab “jika saya diminta oleh gubernur atau pejabatnya, maka saya mau”. Lanjutnya, guru-guru harus bersatu untuk merayu gubernur agar mau meminta beliau menerapkan program ini di daerah Jawa Timur. Ya semoga apapun nama programnya, itu bisa menjadikan Indonesia ini menjadi lebih baik.

Label:

2 Komentar:

Blogger Friyant mengatakan...

luar biasa....

Sabtu, Juli 16, 2011 7:02:00 AM  
Blogger ghosty1st mengatakan...

luar biasa piye fit?

Kamis, Juli 28, 2011 1:08:00 AM  

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda