Sabtu, 28 April 2012

Pulau Sejuta Impian (part 2)

Selasa, 24 April 2012 Saatnya ke laut. Ya, pagi sekali setelah subuh aku sudah mandi. Tak ingin terlambat ke laut untuk menyaksikan apa yang ada didalamnya. Masih sangat pagi waktu itu, padahal kapal berangkat jam setengah 9 pagi. Rencananya kami akan bersama rombongan anak-anak mahasiswa cina dari Jakarta. Ngomongnya loh gue – loh gue. Tak ada sedikit pun logatnya yang medok. Hehehe. Jadi malu. Sambil menunggu setengah 9, kami pinjam motor pada kakek untuk jalan-jalan ke atas gunung di Karimun Jawa. Dari atas gunung, pantai-pantai itu luar biasa indahnya. Pulau-pulau pun berdiri megah diantara luasnya lautan. Sungguh indah. Di kanan kiriku terdapat banyak sekali pepohonan dengan akar-akar yang menjulang hingga ke atas. Tinggi. Aku tak tahu nama pohon-pohon itu. Bagiku baru pertama kali aku melihat pohon jenis itu. Namanya juga Taman Nasional, jadi didalamnya pasti terdapat pepohonan yang dilindungi. Banyak juga burung-burung yang tak kukenal. (ini dari tadi kok tidak kenal melulu. Jangan-jangan aku memang kuper dan gaptek, jadi tidak tahu apa-apa). Bentuknya unik. Warna-warnanya pun bermacam-macam. Ada yang kuning, biru, merah, dan hitam tentunya. Katanya memang tempat ini juga melindungi hewan-hewan seperti burung itu. Selain burung, juga monyet, aneka serangga, dll. Waktu mendekati pukul 8 pagi. Ayo ke dermaga.....! Setelah sarapan di warung sunda itu, kami segera ke dermaga. Disana kami bertemu dengan mas Kuntet. Berhubung mas Kuntet harus menjemput tamu dari Semarang, maka kami diserahkan ke mas Biyan. Dialah guide kami selama kami ada di laut. Mas Biyan perawakannya kurus. Potongan cepak. Orangnya ramah, meski medoknya masih sangat terasa. Hehehe. Tak lama kemudian datanglah 4 orang cina dari Jakarta yang diceritakan mas Kuntet kemarin. 2 orang cewek. 2 orang cowok. Sepertinya mereka mahasiswa kedokteran, setidaknya itu yang bisa kusimpulkan dari obrolan mereka sepanjang perjalanan. Kami memulai petualangan kami di pulau Menjangan Besar tepat didepan pulau Karimun Jawa. Disana kami melakukan kegiatan ekstrem......berenang bareng hiu. Oh God, gigit tidak ya? Ya, sensasi takut itu memang yang menyenangkan. Deg deg serrr. Sumpah, takut sekali. Sesekali si pawang melempar ikan mati didepan kami yang mengundang ikan-ikan hiu itu datang di depan kami. Tak elak kami menjerit ketakutan. Aku sendiri menggeret mas Biyan di depanku agar bisa melindungiku. Hahaha. Dan lalu....sesuatu menggigit betisku dari belakang. Arrrgggghhhh....aku pun teriak seketika. AKU DIGIGIT.....AKU DIGIGIT....AKU DIGIGIT....! Mas Biyan, sopir kapal, dan pawang hanya tertawa melihatku ketakutan. Dan tak lama kemudian si cewek cina itu juga menjerit. ARGGGHHHHH......AKU JUGA DIGIGIT. Seketika itu juga kami panik. Leo dan yang lainnya juga ikut panik. Tapi tidak dengan penduduk-penduduk lokal itu. Asem! Mereka bukannya menolong, tapi malah tertawa. Pelan-pelan kupegang kakiku. Kupastikan kakiku masih ada. Masih ada sih. Tapi salah satu orang cina itu bertanya ada yang berdarah ga? Hati-hati darah! Bisa mengundang hiu lain untuk datang. Sialan kami semakin panik. Didepan kami hiu-hiu berenang mengelilingi kami seolah-olah menghadang kami untuk tidak kabur ke atas. Kenapa? Kenapa harus kami? Kami tidak mengganggu kalian kan, hiu? Kami hanya mengajakmu narsis untuk bisa dipoto sama si pawang yang ada diatas kami. Kami tidak bersalah kan, hiu? Kalian tidak akan memakan kami kan? Sumpah daging kami tidak enak. Terakhir kali kami minum teh pahit, jadi rasa daging kami pasti pahit. Ayolah hiu, ijinkan kami untuk pergi. Itulah celotehan-celotehan kami sambil merasakan ketakutan yang tiada tara. Mas Biyan dan pawang masih tertawa. Lebih keras, malah. Tak hanya meneruskan tertawanya, mereka malah melempari kami lagi dengan ikan mati. Dan....tentunya semakin banyak hiu yang mengelilingi kami. Sontak jeritan kami semakin menjadi-jadi. Ketakutan kami itu menjadi objek yang menarik untuk di foto oleh mas Biyan dan kawan-kawannya. Sepertinya muka kami yang memelas membuat mas Biyan turun juga ke kolam hiu. Dia menjelaskan bahwa yang menggigit kami itu adalah ikan-ikan kecil yang ada didalam kolam juga. Dia menunjuk pada ikan-ikan kecil. Kami sedikit tenang sih, tapi hiu-hiu yang masih berkeliling didepan kami ini masih membuat kami ketakutan. Setelah puas difoto-foto bersama hiu, satu persatu kami naik ke permukaan. Melihat foto-foto kami, rasanya kepingin tertawa sendiri. Sensasi ketakutan itu tidak akan kami lupakan. Luar biasa.
Perjalanan kami lanjutkan ke pulau Menjangan Kecil. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di pulau itu dengan menaiki kapal motor milik mas Biyan. Belum sampai pulau, kapal berhenti. Disana kami diwajibkan mengenakan pelampung, kaki katak dan snorkle. Wouw, ini pertama kalinya aku berenang di lautan. Jangankan kedalaman 3 meteran seperti tempat kami saat itu, kedalaman 2 meter di kolam renang saja, aku udah takut. But, it’s ok. Bukankah aku disana untuk merasakan petualangan-petualangan baru. Byur...untuk pertama kalinya aku ceburkan diri di tengah lautan seperti ini. Aku mengambang. Ya, pelampung ini bekerja dengan baik. Ku goyang-goyangkan kakiku. Wouw, ternyata gerakku menjadi lebih cepat ketika aku memakai kaki katak ini. Wehehehe. Asiik aku bisa berenang dilautan (tapi pakai pelampung. Hehehe). Mas Biyan memberikan instruksi pada kami untuk memasukkan kepala kami di dalam air. Mblub.. Wuouuuuuuww.......kehidupan bawah laut. Keren..... Ikan dimana-mana. Kecil besar. Bentuknya macam-macam. Warnanya pun beraneka macam. Ada biru, kuning, perak, emas, hijau, semuanya ada. Ini loh ikan-ikan yang kulihat di film “Finding Nemo”. Sumpah keren. Sopir kapal melempari kami. Kali ini tidak dengan ikan mati, tapi dengan roti yang sudah diremes-remes, lalu ditaburkan di depan kami. Lalu amazing, ikan-ikan kecil yang indah itu segera mengerubungi kami. Seru habis. Ada yang menggigiti kami dengan gigi ompongnya itu. Ada yang menyundul-nyundul. Semuanya berenangan didepan kami. Tepat didepan mata kami, PERSIS. Sesekali kami menangkapnya, lalu melepasnya kembali. Tak terhitung jumlah ikan yang ada disekeliling kami. Ratusan, mungkin juga ribuan. Wah tak disangka bisa sekeren ini. Mas Biyan memotret kegiatan kami bersama ikan-ikan lucu itu. Lupa sudah setumpukan tugas yang ada di meja kerjaku. Lupa juga aku kalau biasanya jam segitu aku sudah makan. Aku juga lupa kalau aku harus segera menyelesaikan proyek dari klien seminggu yang lalu. Saat ini aku ingin menikmati waktuku bersama makhluk Allah yang lain, di dunia yang lain – dunia air. Aku dan ikan-ikan itu seperti saudara yang lamaaaaaaaaaaaaa sekali tidak pernah bertemu, lalu melepaskan kerinduannya. Mas Biyan meminta kami melihat bawah laut lebih dalam lagi. Dan untuk kesekian kalinya, aku merasakan kagum yang luar biasa. Dibawahku tepat berjajar terumbu-terumbu karang yang cantik. Berwarna-warni. Beraneka macam bentuk. Ada yang seperti batu, ada yang seperti kipas, ada yang seperti koran yang digumpal, dll. Satu per satu ikan keluar masuk ke terumbu karang itu. Terumbu karang itu bergoyang-goyang mengikuti alur arus. Angin saat itu sangat sepoi sarat akan kedamaian yang akhirnya kedamaiannya itu menular meresap hingga kehatiku. Aku merasakan juga kedamaian dalam setiap gerakannya. Terumbu-terumbu karang yang beraneka macam itu seperti menyapaku dan mengatakan “hai kawan, lama tak jumpa, apa kabarmu?”. Subhanallah, aku selama ini hanya melihat terumbu karang di internet saja. Tidak pernah melihat langsung pakai mata sendiri. Dan sekarang, mereka didepanku. Dan kukatakan pada terumbu karang itu “hai juga, aku baik-baik saja. Kamu bagaimana kabar?”. Mereka seperti mengacungkan jempolnya padaku sambil tersenyum pertanda bahwa mereka baik-baik saja hingga sekarang. They are all amazing. Very amaze me. Kami puaskan diri kami untuk berfoto bersama karang-karang itu hingga akhirnya mas Biyan meneriaki kami untuk segera naik ke kapal. Kami akan segera menuju ke pulau Cemara Kecil untuk makan siang. Kapal pun berangkat. Warna air berubah menjadi hijau. Kapal kami berhenti disana. Lalu kami berjalan menuju pulau itu sekitar 100 meteran. Pulau kecil itu sangat indah. Pasirnya berwarna putih bersih dan halus. Pohon-pohon cemara tumbuh di pulau tak berpenghuni tersebut. Indah sekali. Pantai tempat kami berjalan itu tidak dalam. Hanya sebatas lutut. Tapi dari atas, kami bisa melihat keindahan isi airnya. Ada bintang laut, ada kerang, ada ubur-ubur, dan berbagai jenis ikan lainnya. Kami sempat berfoto-foto disana. Mas Biyan dan krunya hendak membakar ikan sebagai makan siang kami. Wah, pasti lezat. Sementara mereka memasak, kami berfoto-foto di pepasiran yang ada disana. Dari Pulau Cemara Kecil, pulau Karimun Jawa terlihat seperti bebukitan. Dibawah kami lautan nan hijau dengan pasir putih. Ditambah lagi cahaya matahari yang bersinar terang saat itu, membuat spot foto kami menjadi begitu sempurna. Kami berasa foto dengan beground yang sudah diolah sedetail mungkin melalui Photoshop yang telah diatur brightness, level, contrast, dan saturasi-nya. Kami beraksi dengan berbagai macam gaya. Kadang kami menaikkan tangan kami diatas. Kadang kami mengacungkan jempol, kadang kami bergaya ala anak alay, kadang kami bergaya ala power ranger, dan tak lupa....kami foto melompat.
Ya, itu semua adalah ungkapan isi hati kami yang begitu bahagia berada di pulau yang sangat indah itu. Kami ingin melepaskan semua kekaguman kami itu lewat ekspresi kami. (lagi-lagi) mas Biyan meneriaki kami. Memanggil untuk makan siang. Ini dia yang ditunggu-tunggu. Saatnya makan siang...............! Menu kami adalah ikan kakatua hijau yang dibakar bersama dengan kulit kelapa. Aromanya sungguh merangsang semua sarafku untuk memakannya. Ikan bakar itu di temani dengan sambel kecap dengan irisan bawang yang menggugah lidah. Ada juga mie goreng sebagai teman ikan bakar dengan bumbu buatan sendiri. Khas Karimun Jawa, katanya. Dan tak lupa, krupuk. Makan dengan menu seperti ini, di tempat yang seperti ini, bersama orang-orang yang seperti ini sangat menyenangkan. Kami sangat lahap menyantapnya. Begitu suapan pertama menyentuh lidahku, aliran darahku langsung bergerak cepat tak ingin terlambat menyambut makanan yang akan diangkutnya. Saraf lidahku langsung memberi informasi di otakku untuk merespon sebuah kata: LEZAT. Hmmm, nyammmi, wouw, nlhhhheeeb, hanya itu bebunyian yang terdengar ketika kami makan. Dalam sekejap, makanan kami habis. Tak bersisa. Kami seperti orang kelaparan yang belum makan 7 hari. Kami sampai terlupa bahwa pagi tadi kami sudah sarapan di warung Sunda. Hehehe. Usai makan, mas Biyan mengajak kami ke spot terumbu karang paing indah di Karimun Jawa. Letaknya ditengah lautan diantara pulau Cemara Kecil dan Karimun Jawa. Kami pun segera kesana. Lautan masih berwarna biru gelap. Ini menandakan laut masih dalam. Tapi kapal kami sudah berhenti. Jantung kami sentak berdenyut kencang. Apakah disini spot menarik itu? Dan ternyata memang iya. Disinilah spot terumbu karang terindah itu. Gila! Ini dalam men! Beberapa dari kami masih takut-takut. Terhanyut, tenggelam membayangi kami. Gila! Sedalam ini? Setelah dibujuk-bujuk mas Biyan, satu persatu kami turun ke laut. Oh God, ini memang amazing, beberapa kali aku berhadapan dengan ketakutan, tapi ini harus dihadapi demi sesuatu yang worth it untuk dilihat. “Ayo kedalam!” kata mas Biyan. Kami saling berpandangan. Kami tidak berani. Kami disuruhnya untuk melepas pelampung dan snorkle. Spot dibawah bagus katanya. Kami akan melakukan sesi foto underwater yang sebenarnya. Dan kami harus menahan nafas beberapa saat untuk dapat bisa foto di dasar laut. Kepala kami masih di permukaan. Sumpah, kami (terutama aku) sangat takut masuk kedalam sana. TIDAAAAAKKK!! Aku takut. Sumpah. Ini pertama kalinya kau berenang di laut lepas, dan disuruh langsung menyelam, tanpa alat pula! Ketakutanku semakin menjadi-jadi. Satu persatu teman-teman memasukkan badannya. Begitu keluar, posisi mereka sudah jauh disana. Sekitar 20 meteran dari posisiku berada. Mereka semua melakukan foto. “Ayo mas! Kamu pasti bisa!” beberapa orang termasuk cewek cina itu meneriakiku. Aku terburu terkencing-kencing dicelana. Sumpah aku masih takut. Tak berani. “ayo! Sini nanti aku bantu dari sini!” katanya menyemangatiku. Sekarang tinggal aku disini. Berenang di sisi kapal. Semua orang meneriakiku untuk segera masuk ke dasar laut untuk pemotretan. Kubuka satu persatu alat-alatku. Susah sekali. Sebenarnya bukan susah, tapi berat melepaskannya. Oh pelampung, sampai jumpa. Aku juga melepas snorkle. Kakiku kukayuh lebih kencang berharap tidak tenggelam. Aku masih merasakan ketakutan itu sungguh hebat melanda dan menguasai diriku. Aku coba meluncurkan kepalaku kedalam, tapi tak bisa. Sepertinya ketakutanku mengarahkanku untuk tidak masuk kedalam. Kucoba lagi, gagal lagi. Kepalaku masih di permukaan. Teriakan semakin kencang. Kucoba lagi, masih saja tidak bisa menyentuh dasar laut. Untuk terakhir kalinya, akhirnya aku berpegang pada tali jangkar yang menempel di dasar laut. Aku tarik tali itu hingga aku bisa menyentuh jangkar. Saat itulah aku melihat betapa indahnya dasar lautan. Sumpah keren. AMAAAAAAZIIIING. Aku melihat sebuah kerajaan laut yang luar biasa. Istananya berupa terumbu karang terindah yang pernah kulihat. Disana bertengger ikan-ikan sebagai penghuni kerajaan laut. Aku seperti melihat ada sosok raja laut berupa ikan dengan mahkota dikepalanya, sedang yang lain mengelilinginya. Sungguh indah tiada tara. Ikan-ikan aneka jenis seliweran di depanku. Beberapa menatapku sambil malu, lalu masuk kembali kedalam karang. Beberapa berani menyenggolku. Asik. Sambil berpegangan tali jangkar, mas Biyan memotretku. Puaaaaaaaaaaaaasssszzz rasanya bisa berada didalam. Dan aku lupa kalau aku harus bernafas kembali. Aku langsung bersigap menarik tali keatas, dan muncullah kepalaku di permukaan sambil diiringi tepukan tangan dari semua kawan-kawan baruku itu. Yes!!! Aku telah melalui ketakutan itu dan terbayar dengan keindahan alam bawah laut yang luar biasa.
Puas foto di dasar laut, kami diajak mas Biyan dan kru ke salah satu tanjung yang ada di Karimun Jawa. Aku tidak tahu namanya apa. Lagi-lagi pasirnya putih halus. Airnya sangat bening. Ombaknya sangat kecil disana, sehingga kita bisa bermain-main air sampai puas. Aku sempatkan untuk sholat jama’ Dhuhur dan Ashar disana. Di sepanjang pantai berjajar orang-orang berjualan makanan dan minuman. Mungkin seperti itu rute yang dirancang oleh pelaku jasa pariwisata disana. Aku sendiri sambil melepas lelah, membeli es degan hijau yang baru dipetiknya dari pohonnya langsung, dan beberapa potong pisang goreng. Hmm lezat. Makan seperti itu di tempat seperti itu berasa sangat damai. Kelezatannya terasa hingga ke ujung-ujung saraf lidah. Di pinggi orang jualan tempat aku membeli jajan, ada sederetan pohon kelapa. Satu diantara pepohonan itu berdiri miring. Itulah yang dijadikan salah satu spot menarik untuk berfoto ria. Kata mas Biyan, setiap pengunjung yang datang ke pulau Karimun Jawa tidak akan melepaskan kesempatan berfoto disana. Akhirnya kami pun melakukan sesi pemotretan berikutnya yakni di pohon kelapa miring. Aku tertarik untuk membuat tulisan di pasir. Tak lama kemudian, aku mengambil kayu dan menuliskan “I love you, Joe”. Joe sendiri adalah panggilanku ke istriku. Lalu kupotret dari atas. Ada lagi spot yang menarik perhatianku untuk di foto. Sekumpulan batu-batu lautan yang sama persis seperti yang ada di film Laskar Pelangi. Oh tidak, aku menemukannya. Batuan yang membuat siapa saja ingin berfoto diatasnya. Batuan khas pantai-pantai eksotis. Selama ini aku hanya bisa memimpikannya untuk bisa berada disana. Dan sekarang aku melihatnya langsung, PERSIS didepanku. Aku pun memotretnya. Mengabadikannya sehingga suatu saat jika aku merindukan batu itu, aku bisa melihat dari fotonya. Setidaknya aku pernah bertemu sekaliiiiiii saja. Sambil melepas lelah, kami layangkan pandangan kami di salah satu pulau di depan kami. Pulau Gosong namanya. Tampak sekali siluet pohon-pohon kelapa disana. Oh tidak, siluet, siluet, ini berarti.........sunset! Subhanallah, aku melihat sunset dibalik pulau itu. Luar biasa indahnya. Perlahan-lahan sang mentari melelapkan dirinya di pangkuan Pulau Gosong. Ia hendak melanjutkan tugasnya untuk menyinari belahan bumi yang lain. Warna oranye di langit tercipta sangat indah. Beberapa awan berlari mengejar matahari di ujung sana. Beberapa tetap tinggal diam di tempatnya berada. Saatnya kembali ke daratan....
Puas dengan petualangan kami hari itu, akhirnya kami kembali ke pulau Karimun Jawa. Waktu menunjukkan pukul 7 malam ketika kami menginjakkan kaki kami di penginapan. Mas Kuntet menyambut kami di penginapan. Dia menanyai kami tentang komentar perjalanan kami. Akhirnya malam itu kami habiskan dengan cerita sana-sini tentang petualangan hebat kami hari itu.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda