Kamis, 09 April 2009

pagi




Pagi yang cerah. Sudah lama aku tak menghiraukan cerahnya pagi seperti ini. Subhanallah, langit diatas sana berubah warna. Dari hitam menjadi merah, lalu biru, lalu terang benderang. Aku menjadi saksi keagunganMu ya Tuhan atas pergantian malam menjadi pagi ini.


Usai shubuh pagi ini, mumpung libur, aku berencana untuk berolahraga. Kaki ini terus melangkah hingga terhenti di sebuah sungai. Disana aku tertegun melihat pagi. Pagi yang segar tanpa polusi. Pagi yang hening tanpa keributan. Sungguh pagi yang indah.
Langit itu, tak seperti manusia, selalu mentaati perintahMu wahai Tuhan. Ia beredar menurut garis yang sudah Kau tentukan. Ia bersinar sesuai yang Kau perintahkan. Setiap hari, setiap pagi, ia berjalan, selalu dan selalu, tiada henti. Itulah wujud pengabdiannya padaMu. Sementara kami, manusia, selalu membangkang atas apa yang Kau perintahkan.


Langit itu, tak seperti manusia, selalu memberikan cahaya terbaiknya. Bukan untuk dirinya, tapi untuk makhluk yang lain yang terkadang sering meludahinya dengan asap tebal – asap dari corong-corong pabrik dan kepulan mulut orang-orang yang membakar uang dan paru-parunya dengan rokok. Sementara kami ? kami enggan melakukan sesuatu jika sesuatu itu tidak memberikan manfaat bagi kami. Sejuta rumus untung dan rugi akan kami ajukan demi mempertimbangkan pantaskah kami melakukan sesuatu demi orang lain. Sungguh egois kami ini.


Terkadang kami bergurau atas ayat-ayatMu. Terkadang kami melupakan sholat yang sudah menjadi perintahMu. Kami pun sering mengabaikan panggilan adzanMu yang luarbiasa indahnya itu. Lalu kami pun tersungkur, menangis, atas kesalahan yang kami buat. Namun… tak perlu satu hari, tak lama setelah kami menangis, kami pun tertawa kembali. Bahkan menertawakan kenapa kami harus menangis.


Pagi, darinya aku belajar tentang sebuah pengabdian yang tinggi. Sebuah penghormatan atas kuasa Illahi.


Pagi, darinya aku belajar tentang sebuah kerja keras tanpa lelah. Sebuah ke-istiqamah-an yang luar biasa tanpa berhenti. Sebuah keikhlasan untuk memberi tanpa keinginan untuk mendapatkan kembali.


Kawan, jika esok masih ada pagi. Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk menemuinya. Maka kawan, jika kesempatan itu ada, jangan sia-siakan pertemuanmu dengan pagi. Jangan biarkan pagi berlalu tanpa memberimu makna sedikitpun.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda