Senin, 29 Desember 2008

Belajar mandiri dari tumbuhan

Aku bertanya heran, kenapa ada orang yang mengkonsumsi sayuran terus menerus tanpa makan daging sedikit pun. Bukankah daging itu enak? Bagi sebagian orang (mungkin termasuk aku), tidak afdol rasanya jika makan nasi tanpa daging / ikan.


Ada pula yang mengatakan bahwa lemak nabati lebih baik dari lemak hewani. Bahkan aku masih ingat seorang penjual susu kedelai membujukku sambil mengatakan bahwa susu kedelai lebih baik dari susu sapi karena susu kedelai berasal dari tumbuhan.


Oke, mungkin makanan yang terbuat dari tumbuhan lebih bervitamin dari hewan. Tapi apa itu saja sudah cukup? Apa dengan alasan ini pulalah Allah selalu mengiming-imingi manusia untuk meraih surga, dengan mengatakan bahwa diSurga ada buah-buahan (tumbuhan) yang dibawahnya mengalir sungai yang indah?


Hhmm, ijinkan aku bercerita sedikit tentang perenunganku tentang ini.
Aku memang tidak percaya bahwa hanya kandungan gizi, yang menjadi satu alasan mengapa Tuhan mereferensikan tumbuhan untuk kita makan.


Aku mengamati hewan dan tumbuhan. Sambil mengamati, aku mencoba menerobos dimensi waktuku ke beberapa tahun yang lalu ketika aku masih duduk dibangku SD. Masih jelas dipikiranku apa yang dikatakan guruku tentang tumbuhan. Ia mengatakan bahwa tumbuhan adalah makhluk hidup yang bisa berdiri sendiri. Ia bisa hidup tanpa bantuan orang lain.


Satu hal yang aku tangkap disini adalah KEMANDIRIAN.
Ternyata kemandirian. Aha, aku pun kembali ke dimensi waktu dimana aku menatap tumbuhan didepanku.


Kemandirian. Ternyata benar kata guruku, tumbuhan adalah makhluk yang sangat mandiri. Ia bisa tumbuh dengan sendirinya. Tanpa digendong oleh ibunya. Tanpa harus didulang oleh ayahnya. Tanpa harus belajar dari gurunya. Dan tanpa-tanpa yang lainnya.


Ia bisa mendapatkan makanannya sendiri melalui akar-akarnya yang menembus tanah dan batuan. Tak peduli seberapa jauh ia mendapatkan makanannya, ia terus merambat sejauh apapun itu agar ia bisa tetap hidup, meski harus menembus batu keras sekalipun.


Tumbuhan kecil masih terus berjuang. Ia mencari cahaya agar ia bisa memasak makanannya. Ia mencoba mencakar-cakar tanah agar mendapatkan bahan makanan. Ia tidak takut pada manusia yang mungkin akan menginjaknya. Ia juga tak takut pada kambing yang mungkin akan memakannya. Ia terus berjuang hingga akar-akarnya benar-benar menggenggam erat tanah dan ia pun mampu berdiri tegap.


Ia lalu tumbuh. Ia terus mencari dan memasak makanan. Sekarang ia menjadi lebih besar. Ia tidak takut pada angin yang mungkin akan merobohkannya. Ia juga tak takut pada panasnya mentari disiang hari. Ia juga tak takut dinginnya malam, meski semua manusia sudah pulang kerumah, semua hewan balik kekandang, dan semua burung terbang ke sarang. Ia pun tak takut dengan gigi geraji yang siap memotong tubuhnya. Ia terus berjuang hingga ia membuat sesuatu yang mampu memberinya julukan sebagai tumbuhan yang sempurna, BUAH.


Ketika buah mampu ia lahirkan, ia tak berhenti berkarya. Ia mencoba menguatkan bumi dengan cengkeraman akarnya. Ia menyedot semua air bah ketika bumi sudah tak mau lagi menampungnya. Ia melindungi semua makhluk yang berada dibawah daunnya yang lebat dari panas dan hujan. Tak hanya melindungi, ia juga memperbolehkan manusia dan hewan memakan buahnya-mahakarya yang selalu dia buat setiap saat. Mahakarya yang membuatnya bangga disebut sebagai tumbuhan.


Guru ngajiku mengatakan bahwa watak seseorang bisa dilihat dari apa yang dimakan oleh orang itu. Masuk akal memang. Jika kita makan sesuatu, apapun itu, (maaf) apakah yang kita keluarkan (kotoran kita) berbeda-beda? Tidak bukan? Artinya, jika kita makan bakso, maka bentuk kotoran yang keluar juga sama seperti kita makan nasi goreng. Ini berarti, tidak peduli apa yang sudah masuk dalam tubuh maka yang keluar akan seperti itu-itu saja. Tidak berubah warna dan bentuk. Apakah kita pernah mengeluarkan kotoran yang berbentuk bintang atau mobil-mobilan? Tidak pernah bukan?
Lalu dimana bakso yang kita makan? Dimana nasi goreng itu? Dimana sayur kol yang kita makan bersama mie? Dimana acar yang kita makan bersama martabak?
Jawabannya adalah mengendap dalam tubuh kita.


Jadi sebenarnya tubuh kita ini adalah endapan dari apa yang kita makan selama kita hidup ini.

Jika demikian, maka watak dan kepribadian kita tergantung dari endapan apa yang paling banyak ditubuh kita ini. Jika kita banyak mengendap daging-dagingan, maka watak kita akan cenderung mirip hewan yang kita makan itu. Anggaplah kambing. Maka, tidak ubahnya sebenarnya kita ini adalah kambing. Dan kita pun juga akan mewarisi sifat-sifat kambing.


Tidak hiperbolis, namun ini adalah sebuah kenyataan yang logis.
Jika kita banyak mengkonsumsi tumbuhan maka kita akan mewarisi sifat-sifat tumbuhan dengan segala kemandiriannya. Tidak usah terlalu jauh melihat efeknya. Sejak kecil, kita sudah diberi susu sapi oleh orangtua kita. Kita pun tak puas jika makan nasi tanpa daging ayam atau sapi. Untuk itu, mari kita lihat generasi kita saat ini. Kita tumbuh menjadi orang yang sangat tidak mandiri. Pengangguran dimana-mana. Kita hanya mampu menunggu pekerjaan akan datang pada kita, meski jika kita mau bergerak sedikit saja, kita bisa mendapatkan uang (walaupun dengan pekerjaan yang kotor sekalipun). Tidak perlu takut dan malu, banyak sekali contoh orang sukses meski pekerjaannya tergolong kotor dan hina, sebut saja pengusaha sedot WC.


Kawan, pada tumbuhan sepatutnya kita belajar tentang hidup ini. Bahwa untuk sukses jangan pernah mengandalkan orang lain. Kita harus bisa mandiri. Jangan pernah menggantungkan hidup kita pada orang lain. Terus ciptakan mahakarya untuk orang lain. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, jangan hidup untuk meminta sebanyak-banyaknya.
Hidup generasi muda mandiri.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda