Rabu, 01 April 2009

Ada Tuhan Di Tangan Yang Bergetar (part 1)

Saat pulang sekolah. Saat yang paling ditunggu oleh Diki. Siang itu bagi sebagian besar orang, adalah hari yang panas, namun tidak bagi Diki. Ia bergegas pulang, makan, lalu menuju ke tempat favoritnya di ujung gang sebelah. Tempat itu milik Pak Nanang, berisi sekumpulan TV dan mesin yang dihubungkan dengan kabel dibawahnya. “Nanang PS rental” nama tempat itu.


Bergerombol anak datang kesana. Riuh. Gaduh. Ramai ala anak-anak. Tak mau kalah dengan anak-anak itu, si Diki pun ikut nimbrung disana. Saat itu jam 2 siang, 2 jam setelah ia pulang sekolah. Ia pun masuk dalam daftar antrian untuk menikmati satu permainan yang katanya bisa membuat orang mabuk kepayang. Beruntung saat itu antriannya tidak terlalu panjang, jadi jam 4 sore ia bisa menyewa mesin PS itu. Biasanya jam 6 sore ia baru bisa mendapatkan gilirannya.


Setelah menyerahkan sejumlah uang ke Pak Nanang, Diki pun mulai beraksi. IT’S DIKI TIME.


Ia pun mulai beraksi. Mengambil kaset CD yang bertuliskan “tekken”. Rupanya ia ingin bertarung didunia maya. Tidak nyata. Namun ia senang memainkannya. Dia tidak sendiri, ia mengajak Prabowo. Mereka memang kawan sekaligus lawan yang baik dalam hal ini. Namun kali ini pertarungan mereka bukan sekedar pertarungan. Lebih dari itu, mereka sedang bertaruh. Dan kali ini bukan sekedar pertaruhan biasa. Pertaruhan masa depan, kata mereka. Ini semua demi Nadia dan harga diri.


Rupa-rupanya ini adalah pertaruhan demi mendapatkan Nadia, teman sekelasnya di salah satu SMP negeri di Surabaya. Nadia memang cewek idaman disekolahnya. Parasnya yang cantik dan otaknya yang encer selalu membuat kaum adam yang melihatnya ingin selalu dekat dan bahkan memilikinya. Nadia memang pantas untuk diperebutkan. Memiliki Nadia berarti sebuah kehormatan yang luar biasa, pasalnya Nadia memang sulit untuk ditaklukan. Dan kalah dalam pertaruhan mendapatkan Nadia berarti menggadaikan harga diri dengan harga yang sangat rendah.


Diki memilih Edi karena Diki tertarik dengan gaya sambanya. Dia memang Sambamania. Sedangkan Prabowo, dia terobsesi dengan Mike Tyson, petinju legendaris berkulit hitam itu, makanya dia memilih Paul yang memiliki ajian mumpung pukulan maut yang bisa menghabiskan darah hingga 50 %. Sekali hantam dan mengenai lawan, maka bups, hancurlah si lawan.


Mereka pun “bertarung” di bidang layar datar 14 inch. Mata mereka tak lepas dari TV bermerk Panasonic itu. Sedangkan tangan mereka dengan asik dan lincahnya memainkan joystick dari mesin yang bernama PS itu.


Mereka sepakat mereka akan bertarung sebanyak 5 kali. Siapa saja yang bisa memenangkan pertarungan hingga 3 kali, maka dialah yang menang.


Demi memenangkan pertaruhan ini, mereka pun latihan beberapa kali. Inilah saatnya. Saat menunjukkan harga diri. Harga diri yang bisa diperoleh dengan mendapatkan Nadia.


Stik mereka tak henti bergetar seiring dengan pukulan yang dilayangkan lawan pada pemainnya. Si Paul memukul Edi, dan Edi pun mendaratkan tendangan mautnya ke muka Paul. Bergetarnya stik berarti pemain mereka telah terkena pukulan atau tendangan lawan. Permainan semakin seru karena selain memukul, mereka juga punya jurus-jurus untuk menghindar dari lawan. Maka pertarungan ini lebih dari sekedar memukul dan menendang, namun juga strategi. Strategi bagaimana caranya mendapatkan saat dimana musuh lengah. Sekali lengah, itulah saat yang tepat memukul lawan.


Edi yang biasanya menendang keatas, membuat Paul hanya melindungi bagian kepala saja. Saat itulah, saat yang tepat bagi si Edi untuk menendang bagian kaki si Paul. Paul pun jatuh, dan bergetarlah stik Prabowo.


Prabowo pun geram, ia semakin serius. Paul melompat melewati si Edi. Dari arah belakang, Paul memukul Edi dengan full power. Maka habislah riwayat si Edi. Babak ini pun (kembali) dimenangkan oleh Prabowo. Itu adalah kemenangan kedua Prabowo setelah kalah 2 babak dengan Diki. Saat ini skor mereka sama 2 – 2. Dan saatnya babak terakhir.


Tak mau tertipu dengan trik-trik sebelumnya, mata mereka jauh lebih waspada menatap layar TV itu. Ini adalah babak penentuan siapa yang lebih unggul. Bayangan wajah Nadia terlintas di benak Diki, seolah-olah Nadia duduk dipinggir arena dan menyoraki dirinya. “ayo kang Diki, berjuanglah, demi adinda…..jangan kalah” barangkali itu teriakan Nadia dalam pikiran Diki.


Setelah sekian lama bertahan dari serangan-serangan lawan, akhirnya pertarungan pun dimenangkan oleh Diki. Ah, Diki pun senang, sesenang Pak Nanang karena waktu sewa mereka sudah habis. Ini berarti giliran yang lain menggantikan Diki dan Prabowo, dan berarti pak Nanang menerima uang sewa lagi, 2 ribu per jamnya. Kata Robert T. Kiyosaki, usaha Pak Nanang ini adalah program dimana uang bekerja untuk kita. Pak Nanang tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang. Cukup duduk saja dibalik sebuah meja kecil dengan laci dibawahnya, tempat menaruh duit.


Tak terasa, jam dinding di rumah pak Nanang menunjukkan pukul 8 malam. Saatnya Diki pulang. Baru jam segitu si Diki merasakan lapar menyerang perutnya. Permainan Play Station yang oleh banyak orang diubah menjadi ple setan itu telah menyihir Diki untuk tidak memperhatikan cacing diperutnya. Dia tak mampu lagi merasakan lapar.
Seperti biasa, sesampainya dirumah, amarah ibu pun menunggunya disana. Si ibu telah menyiapkan berbagai hal untuk dijadikan bahan marah, biasanya dimulai dengan “dari mana saja kamu?”, lalu dilanjutkan dengan “apa kamu sudah belajar”, “dasar anak tak berguna, bisanya cuma main aja”, “apa kamu tidak tahu, orang tua kerja keras seperti apa?”. Bagi Diki, ini adalah sebuah hal yang biasa, untuk itu ia hanya mencibirkan bibirnya kesamping. ia tak peduli pada ibunya. Dibenaknya hanya ada Nadia, Nadia, dan Nadia. Diki tak sabar menunggu besok, karena besok adalah hari dimana Diki bisa dengan bebas “menembak” Nadia.


_ _ _


Ternyata hari yang indah itu tak seindah yang dibayangkan. Penembakan Diki ditolak mentah-mentah oleh Nadia. Hari itu rasanya bagai hari yang suram bagi dia. Ditolak Nadia berarti pupuslah sudah harga dirinya.


Setelah bernegosiasi dengan dirinya sendiri, bahwa cewek didunia ini tak hanya Nadia, selanjutnya ia tersenyum. Senyumnya itu lebih mirip dengan menghibur diri sendiri. Senyum itu menandakan kalau ia telah menemukan sesuatu. Dan sesuatu itu, tidak lain tidak bukan adalah “Nanang PS rental”. Sepertinya, tak apalah jika ditolak Nadia, toh Diki masih bisa main PS.


Dan Diki pun bergegas ke ujung gang sebelah rumahnya. PS - Play Station, sebuah benda yang sanggup membuat Diki tersenyum kembali. Benda itu pulalah yang mengisi setiap hari-hari si Diki.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda